Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang

Arsip untuk ‘Papua’ Kategori

Menengok Timika, Tanah Impian

Ditulis oleh meisusilo di/pada 14 Desember 2008

image “Huek, huek… huuk!” Akhirnya muntah juga. Perutku seperti diaduk-aduk. Bau busuk rasanya tak hilang-hilang dari hidungku.

“Masya Allah, telurnya busuk. Nggak jadi deh orak-arik kangkungnya!” Aku bergumam kesal. Segera aku mengangkat wajan dan membawanya keluar. Mantan orak-arik kangkungku kubuang perlahan di tempat sampah. “Tapi ganti sayur apa?” tanyaku dalam hati. Tak lama aku mendapat ide.

“Bu Is, minta kangkungnya, ya,” kataku pada tetangga paling dekat rumah.

“Ambil sajalah, Mbak.” Bu Is, tetangga baruku, menjawab dari dalam rumahnya.

Aku segera mengambil pisau dan wadah. Dengan gesit kupetik batang-batang kangkung di kebun belakang rumah Bu Is. Alhamdulillah, tidak perlu ke pasar untuk beli sayuran lagi. Satu genggam cukuplah untuk makan berdua. Aku cepat-cepat mencuci dan memasaknya.

“Abi, tahu nggak?” Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Cerpen, Indonesia, Papua | 1 Komentar »

Geliat Islam Papua dari “Satu Tungku Tiga Batu”

Ditulis oleh meisusilo di/pada 7 Desember 2008

image Banyak sejarah menulis, masyarakat Papua adalah penganut animis atau pemuja roh. Kenyataanya, di Kabupaten Fakfak, Islam hadir telah ratusan tahun.

Beberapa hari ini, Yohan Toysuta semakin tak bisa tidur nyeyak. Bukan apa-apa, pria Fakfak ini harus bertanggungjawab 170 orang yang akan terlibat dalam paduan suara gabungan yang akan ditonton ribuan orang dari berbagai agama.

Tinggal beberapa hari, ia terus memantau tim yang terdiri dari –paduan Suara Katolik, STIE OG, dan paduan Suara Pesparawi (Pesta Paduan Suara Gerejawi) Kabupaten Fakfak—dalam persiapan pembukaan gelar acara akbar. Meski Paduan Suara Pesparawi pernah memenangkan juara tingkat gereja di Kabupaten Fakfak, namun pentasnya kali ini tak boleh main-main. Jangan kaget, para tim paduan suara itu tak sedang mempersiapkan untuk menyanyikan lagu-lagu gereja atau Yesus.

Tapi mereka sedang berlatih menyanyikan lagu Sholawat Nabi dalam untuk menyukseskan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) ke II tingkat Provinsi Papua Barat di Kabupaten Fakfak, 22 April 2008, Selasa besok.

Tim Pauan Suara MTQ ke II Kabupaten Fakfak ini, dibentuk oleh Bupati Fakfak, Dr. Wahidin Puarada.

Meski acara MTQ kali ini adalah acara kaum Muslim, namun yang merasakan pestanya adalah semua agama di Fakfak.

Simbol persaudaraan “Satu Tungku Tiga Batu” diangkat untuk meramaikan pesta MTQ ke II kali ini. “Satu Tungku Tiba Batu” (satu keluarga tiga agama), adalah simbol toleransi agama di Kabupaten Fakfak yang dijaga selama ratusan tahun secara turun temurun. Tiga agama itu adalah; Islam, Kristen dan Protestan.

Bahkan di beberapa tempat beberapa sepanduk bertulisakan ucapan datang dari berbagai kalangan. Diantaranya datang dari Perkumpulan Tionghoa Fakfak. Bunyinya, ”Dengan Semangat MTQ Kita Tingkatkan Solidaritas Umat Beragama.”

Fredi Thie, seorang warga Fakfak beragama Katolik, mengatakan kepada www.hidayatullah.com, semboyan itu sangat dijunjung oleh masyarakat Fakfak. “Itu sudah ada dari dulunya,” katanya tak mengetahui sejak kapan istilah itu digunakan dan akhirnya menjadi budaya dan simbol toleransi.

Karenanya, meski acara MTQ ini adalah acara kaum Muslim, hampir 20 persen panitian penyelenggara MTQ adalah warga Fakfak beragama Kristen dan Protestan.

Jangan bertanya bagaimana bentuk kerukunan warga Muslim dan Non-Muslim di Fakfak. Sebab, toleransi ini banyak diakui masyarakat berjalan lama. Kabarnya, bahkan telah menjadi sebuah tradisi.

“Budaya ini sudah menjadi jiwa dari masyarakat Fakfak,” ujar Haji MZ Wasaraka, salah seorang tokoh Muslim setempat.

“Karena itu, konflik berbau sentimen agama, tak terjadi di tempat kami,” tambah Wasaraka.

Kabupaten Fakfak, Papua Barat, mempunyai 9 kecamatan. 60% penduduknya adalah Muslim. Sisanya adalah Kristen dan Protestan. Kabupaten yang posisinya berada di pinggir laut dan penduduknya bervariatif ini adalah ciri keramahan masyarakat Papua.

MTQ ke-II direncanakan akan digelar di Stadion 16 November dan diperkirakan akan dibanjiri lebih dari 3000 orang. Tak saja yang Muslim, mereka yang berbeda agama pun turut hadir.

Acara resminya akan dibuka oleh Menteri Komunikasi dan Informasi, Muhammad Nuh. Beberapa pejabat yang juga ikut hadir di antaranya, Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid, Dirjen Bimas Islam Depag RI Nazaruddin Umar, serta duta besar Mesir dan Palestina.

Ada sembilan perwakilan daerah yang ikut menjadi peserta dalam MTQ ini. Mereka mewakili setiap kabupaten yang ada di Papua Barat, yaitu Fakfak, Manokwari, Sorong, Kota Sorong, Sorong Selatan, Kaimana, Teluk Wondama, Teluk Bintuni, dan Raja Ampat.

Geliat dari “Kota Pala”
Hajat besar kaum Muslim Kabupaten yang dikenal dengan hasil buah pala ini memang tak semata-mata hanya MTQ. Ada hajat besar lain, menyangkut sejarah masuknya Islam di tempat itu.

Karenanya, selain penyelenggaraan MTQ ke II tingkat Provinsi Papua barat yang dibuka Menteri Agama, juga dibuka acara seminar ’masuknya Islam di tanah Papua’, khususnya di Kabupaten Fakfak.

Selain menghadirkan tokoh Muslim setempat, juga menghadirkan tokoh-tokoh berkompeten lain.

“Tetapi para tokoh agama Islam baik yang ada di tanah air hingga tokoh Islam yang datang dari luar tanah air,” tandas Kepala Dinas Kimbangwil Fakfak Drs.HM Tahir Mustafa, M.Si, yang juga selaku Ketua LPTQ Kabupaten Fakfak.

Sebagaimana diketahui, selama ini, banyak orang di luar Papua mengira, di propinsi yang dikenal sebagai Daerah yang kaya akan sumber daya alam ini adalah identik dengan Kristen.

Namun faktanya, di kabupaten Fakfak sendiri yang memiliki luas wilayah 38.474 km2 dan berpenduduk sebanyak 50.584 jiwa (2000), justru sangat kental dengan Islam.

M. Syahban Garamatan, keturunan Raja Patip
M. Syahban Garamatan, keturunan Raja Patipi, salah anak keturunan kerajaan yang pertama kali yang memeluk Islam di kabupaten itu mengatakan, kedatangan Islam di Fakfak sudah sangat lama.

Banyak fakta yang bisa dijadikan saksi. Diantaranya adalah bukti otentik berupa keberadaan beberapa mushaf Al-Qur’an dan kitab-kitab tua. Saat ini bukti otentik itu dijaga dengan baik oleh Ahmad Iba, salah satu pewaris Raja Patipi.

Mushaf Al-Quran yang konon dibawa oleh Syekh Iskandarsyah dari Kerajaan Samudera Pasai itu mendarat di daerah kekuasaan Kerajaan Mes, yang berada di daerah Kokas, sekitar 50 Km dari pusat Kab Fakfak. Di tempat ini ternyata sudah banyak penduduk yang masuk Islam. Bahkan dalam kerajaan itu pun terdapat masjid.

Selain mushaf Al-Quran dan beberapa kitab-kitab tua, di Kabupaten itu juga berdiri pusat ibadah umat Islam. Di Kampung Pattimburak, sekitar 10 km sebelum Kokas, berdiri sebuah masjid tua dengan arsitektur Portugis. Masjid Pattimburak, demikian kaum Muslim menyebut, diperkirakan dibangun sekitar tahun 1870 M. Masjid beratap dua tingkat berukuran sekitar 5 x 8 m persegi dan menyerupai bangunan gereja adalah saksi kehadiran agama Islam di Kabupaten itu.

Karena nilai historisnya itulah, maka panita MTQ menjadikan Masjid Pattimburak sebaga logo resmi MTQ.

Warasaraka mengakui, ada beberapa kendala dalam berdakwah di bumi Fakfak. Diantaranya ia menyebutkan, sebagian besar kaum Muslim Fakfak belum bisa membedakan mana yang bernilai ibadah dan sosial.

“Sehingga, bagi sebagian umat Islam di Fakfak masih mensampur-adukkan ibadah,” katanya. Hal yang senada juga disampaikan oleh Ustadz Muhammad Sanusi, dai asal Subang, Jawa Barat yang bertugas di Fakfak.

“Umat Islam seharusnya tahu batasan yang tak boleh dilakukan, ,” terangnya.

Warasaraka dan Sanusi yakin, jika tak ada pendidikan dan dai yang memadai, kultur dan toleransi yang bagus yang selama ini dipegang teguh itu akan berimplikasi ke masalah-masalah ibadah di suatu hari.

Sanusi menegaskan, inilah yang seharusnya menjadi tugas berat para dai Fakfak di masa depan untuk mengkomunikasikan kepada umat. Sanusi khawatir, jika tak ada penjelasan melalui pendidikan dan dakwah, kekhawatiran nya akan terjadi.

“Ini memang menjadi tanggung jawab para dai untuk memberikan pemahaman kepada umat Islam,” tekadnya.

“Kami memerlukan dai lebih banyak dai di sini untuk membina agama warga Muslim, “ ujar Sanusi berharap. Meski demikian, Sanusi merasakan, geliat Islam, nampak akan terus berkembang dan bersinar di Kota Pala. [Ahmad Damanik/ www.hidayatullah.com ]

Ditulis dalam Kisah, Papua, Umum | 2 Komentar »

Perjalanan Sebuah Mushaf Tua Ke Papua

Ditulis oleh meisusilo di/pada 7 Desember 2008

image Siapa nyana, Papua pernah diterjang tsunami yang menenggelamkan sebuah Kerajaan besar Islam. Yang terselamatkan hanyalah mushaf tua. Kini, mushaf yang hilang itu telah kembali.

Ada hal yang menarik, saat Sabili melakukan perjalanan jurnalistik ke Kabupaten Fakfak, Papua Barat. Dari sejumlah tokoh masyarakat yang dijumpai, ternyata, tak ada keseragaman pendapat saat mereka bercerita tentang sejarah masuknya Islam di Tanah Papua. Acapkali terjadi perdebatan panjang dari berbagai kalangan, baik masyarakat, agamawan maupun akademisi.

Pembentukan Panitia Seminar Penetapan Sejarah Masuknya Agama Islam di Bumi Papua, khususnya di Kabupaten Fakfak, nampaknya menemui jalan buntu. Hal tersebut disebabkan kurangnya dukungan data/fakta otentik, baik pada tataran penyebarannya maupun pada fase perkembangannya.

Sebagai sebuah kota yang mayoritas penduduknya beragama Islam, masyarakat Fakfak memerlukan sebuah dokumen sejarah untuk dapat mengungkapkan tentang masuknya agama Islam di Kabupaten Fakfak sehingga dapat memperkuat eksistensi serta peran Islam di Kabupaten Fakfak, sekarang dan masa yang akan datang.

Ketika bicara tentang wilayah manakah di Tanah Papua yang pertama kali mendapat sentuhan syiar Islam, banyak versi yang mengungkapnya, masing-masing wilayah punya cerita yang berbeda. Karena itu perlu di telusuri jejak historisnya dengan melakukan penelitian ilmiah dan studi-studi intensif, bukan berdasarkan pandangan masyarakat yang telah di pengaruhi oleh pemikiran mistik atau cerita-cerita rakyat (legenda) dan paham-paham (mitos) yang dapat mengaburkan Historiografi Islam di Tanah Papua.

Ketiadaan literatur tertentu tentang Historiografi Islam di Tanah Papua untuk memahami proses penyebaran dan perkembangannya, mendorong para peneliti menelusuri catatan-catatan sejarah yang ditulis oleh para ilmuwan Islam dan non-Muslim (Barat) ihwal penyebaran agama Islam di bumi cendrawasih ini. Setidaknya, catatan-catatan perjalanan itu dapat dijadikan referensi awal dalam penyusunan Historiografi Islam di Tanah Papua.

Perjalanan Mushaf Tua

image Sebelum wafat, Syekh Iskandar Syah (Sultan Kerajaan Pasai) mengamanatkan kepada keturunannya agar mengembalikan mushaf (al-qur’an) kepada keturunan Raja Patipi di Papua (ketika itu disebut Kerajaan Mes). Seorang keturunan Iskandar Syah yang bernama Burhanudin, kemudian menyerahkan mushaf itu ke Jakarta melalui Ustadz Fadzlan Garamatan setelah menghilang selama kurang lebih 800 tahun. Kini mushaf tua itu disimpan oleh H Ahmad Iba di kediamannya di Fakfak. Ahmad Iba adalah Raja Patipi ke-XVI yang diamanahkan untuk menyimpan lima buah manuskrip berbentuk kitab dengan berbagai ukuran.

Yang terbesar berukuran sekitar 50×40 cm, berupa mushaf al-qur’an tulisan tangan. Mushaf itu ditulis di atas kulit kayu yang dirangkai menjadi seperti sebuah kitab di zaman sekarang. Empat lainnya, salah satunya bersampul kulit rusa, merupakan kitab hadits, ilmu tauhid dan kumpulan doa. Ada “tanda tangan” dalam kitab itu berupa gambar tapak tangan dengan jari terbuka. Tapak tangan yang sama juga dijumpai di Teluk Etna (Kaimana) dan Merauke.

Sedangkan tiga kitab berikutnya dimasukkan ke dalam buluh bambu dan ditulis di atas daun koba-koba, pohon asli Papua yang kini mulai punah. Ada pula manuskrip yang ditulis di atas pelepah kayu, mirip manuskrip daun lontar, di Fakfak disebut daun pokpok.

Berdasarkan cerita turun temurun, lima manuskrip pertama diyakini masuk ke Papua tahun 1214. Dalam rangka penyebaran agama Islam, kitab-kitab itu dibawa oleh Syekh Iskandar Syah dari Kerajaan Samudera Pasai di Aceh yang datang menyertai rombongan ekspedisi Kerajaannya ke wilayah timur. Mereka masuk lewat Mes yang berada di wilayah Kerajaan Teluk Patipi saat itu. Jika diperkirakan, al-qur’an itu sudah ada sejak 800 tahun yang lalu

Menurut Muhammad Sya’ban Garamatan (tokoh masyarakat Fakfak) yang didampingi oleh Ahmad Iba dan Fadzlan Garamatan, ketika Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-7, Syekh Abdul Rauf yang merupakan putra ke-27 dari waliyullah Syekh Abdul Qadir Jailani dari Kerajaan Pasai mengutus Tuan Syekh Iskandar Syah untuk melakukan perjalanan dakwah ke Nuu War (Papua). Sekitar abad ke-12, 17 Juli 1224 , tibalah Syekh Iskandar Syah di Mesia atau Mes — kini masuk wilayah Kabupaten Fakfak, tepatnya di distrik Kokas. Orang pertama yang diajarkan Iskandar Syah adalah seorang yang bernama Kriskris.

“Saat itu Syekh Iskandar Syah mengatakan, jika kamu maju, mau aman, mau berkembang, maka kamu harus mengenal Alif Lam Lam Ha (maksudnya Allah) dan Mim Ha Mim Dal (maksudnya Muhammad). Singkat cerita Kriskris mengucapkan dua kalimat syahadat. Tiga bulan kemudian, Kriskris diangkat menjadi imam pertama dan beliau sudah menjadi Raja di Patipi pertama.”

Jadi yang bawa mushaf ini, kata Sya’ban Garamatan, bukan Sultan Iskandar Syah. Tapi salah satu dari keturunannya, namanya sama, yakni Syekh Iskandar Syah. Sampai ke Teluk Patipi, mushaf ini sudah dalam bentuk seperti ini.

Beberapa tahun kemudian, masih abad ke-12, bencana alam tsunami menenggelamkan Mes, sehingga menyebabkan sebagian penduduk dan seluruh kerajaan Mes habis musnah, tak terkecuali masjid dan isinya tenggelam di dasar laut, kecuali mushaf al-qur’an dan sejumlah Kitab Fiqih-Tauhid. Yang menyelamatkan mushaf tersebut adalah Tuan Syekh Iskandar Syah.

Bagaimana al-qur’an ini bisa terselamatkan? “Kitab ini dibawa kembali ke Aceh oleh Iskandar Syah. Sebelum ke Aceh, konon, kitab ini sempat singgah di Maluku, tepatnya Kampung Sinisore. Menurut kepercayaan masyarakat kampung Sinisore, Islam masuk bukan dari Arab, tapi dari Papua. Bahkan, konon, mushaf ini juga sampai ke Kalimantan karena dianggap membawa berkah. Singkatnya, al-qur’an berikut dengan kitab tauhid dan fiqih terselamatkan, dan disimpan di Aceh oleh keturunan keluarga Syekh Iskandar Syah, bernama Burhanuddin.”

Menurut cerita, pasca bencana, Syekh Iskandar Syah kembali ke Mes tanpa membawa mushaf. Iskandar Syah kemudian wafat di sini, makamnya berada di Pulau Kokorap, Batu Kudus. Konon, ia sendiri yang menggali kuburnya, setelah itu wafat di tempat itu pula. Bahkan sebelum wafat, beredar cerita di masyarakat setempat, ia mandi dan mengkafani dirinya sendiri di dasar laut yang dalamnya mencapai 3 meter. Begitulah cara wafat pembawa al-qur’an pertama di Papua, tepatnya di Fakfak (distrik Kokas yang dulu bernama Mesia atau Mes).

“Pastinya, makam Syekh Iskandar Syah ada di dasar laut. Sebagai simbolik, dibuat makamnya di darat. Inilah bukti otentik Islam masuk ke Fakfak. Selama ini banyak daerah lain mengaku-ngaku Islam masuk ke wilayahnya, tapi tak punya bukti otentik,” tukas Sya’ban Garamatan.

Mushaf itu Telah Kembali

image Setelah bencana, Kerajaan Mes kemudian terbentuk lagi, penduduk yang terselamatkan kemudian turun ke Teluk Patipi (awalnya disebut kampung Patupa, kini Patipi I). Seorang keturunan Syekh Iskandar Syah yang bernama Burhanuddin seperti mendapat petunjuk melalui mimpinya. Dalam mimpinya itu, Burhanudin didatangi leluhurnya dan memintanya agar mengembalikan mushaf itu ke Papua, tepatnya kepada anak keturunan Raja Kriskris, raja pertama yang menganut Islam di Papua dan kemudian menjadi imam di wilayahnya.

Kontak batin pun terjadi. Tanggal 17 Juli 2004, atau enam bulan sebelum musibah tsunami di Aceh (26 Desember 2004), Burhanudin bertemu dengan Ustadz Fadzlan Garamatan, dai asal Fakfak, yang menjadi wakil keluarga Raja Teluk Patipi. Saat itu, Jakarta disepakati sebagai tempat bertemu. Subhanallah, kedua keturunan raja itu pun seperti menemukan rangkaian yang selama ini mereka cari untuk melengkapi sejarah yang hilang.

Saat serah terima, Burhanudin menyatakan, ini amanat dari Tuan Syekh Iskandar Syah, sewaktu-waktu mushaf ini harus dikembalikan ke tempat asalnya. Selanjutnya, Ustadz Fadzlan menyerahkan mushaf ini kepada Ahmad Iba (Raja Teluk Patipi XVI) untuk disimpan dan dijaga dengan baik. “Kitab ini memang harus disimpan oleh keturunan Raja Patipi. Sebab, jika kitab ini dipegang dengan orang yang bukan ahli warisnya atau keturunannya, bisa-bisa orang itu jadi gila,” kata Ahmad Iba memperingati.

Siapa kira, mushaf itu kembali terselamatkan untuk kedua kalinya dari bencana alam tsunami Aceh. “Sejak tsunami menimpa Papua, tepatnya di wilayah Mes, kami sebagai masyarakat Muslim Papua sudah intropeksi diri sebelum bencana tsunami menimpa Aceh,” ujarnya. Wallahu a’lam bishshawab. (Adhes Satria/Sabili)

Ditulis dalam Kisah, Komputer, Papua, Umum | Leave a Comment »