Jum`at (03/04/09) nanti peringatan 6 tahun pembantaian sadis nazi Israel terhadap puluhan warga Kamp Pengungsi Jenin. Ketika itu ratusan tank tempur dan buldoser Israel dikerahkan untuk melumatkan perumahan warga Palestina di Kamp Pengungsi Jenin dan membantai penghuninya. Ratusan jiwa mengalami luka-luka dan ratusan lainnya digelandang serdad-serdadu Israel di bawah todongan senjata. Hari itu (5 dan 6 April) adalah saksi abadi kebiadaban imperialis Israel atas warga sipil Palestina. dan hari itu, telah menyisakan berbagai cerita dan kisah pilu di balik kepongahan dan jumawa para serdadu bengis Israel. Berikut setitik kisah pilu warga Jenin dalam pembantaian dua hari itu.
Namanya Hallah Abu Armelah (32), tak ada pilihan bagi wanita Palestina ini kecuali mengulur pemakaman jenazah suaminya, Ateyah Abu Armelah (44) sampai 7 hari. Disamping untuk menenangkan situasi dan ketakutan anak-anaknya, dengan menjelaskan kepada mereka bahwa ayahnya sedang tidur dan tidak terjadi apa-apa pada dirinya, juga karena tidak ada bantuan medis yang datang.
Waktu itu dia bersama suami dan ketiga anaknya yang masih kecil berada di rumah tinggalnya yang terletak di sebelah tenggara Kamp Pengungsi Jenin, ketika tiba-tiba pasukan Israel menggempur kamp dengan rudal-rudal pesawat, meriam tank dan peluru dari senjata buru sergap. Hari itu, Jum’at (5/04/2002) pukul 17.00 waktu setempat, keluarga Abu Armelah berlindung di dapur. Dengan prediksi bahwa ini merupakan tempat yang paling aman di dalam rumah yang sedang dibombardir militer imperialis Israel.
“Suami saya menanyakan sebesar apa kerusakan yang terjadi di ruangan tamu,” tutur Hallah. Dia katakan tidak tahu persis sebesar apa, tetapi dia melihat dua lobang besar menganga di tembok. Dia yakin itu akibat diterjang rudal atau dihantam meriam tank Israel. Sang suami, yang telah bertahun-tahun membangun rumah sederhana itu, tetap ingin melihat sejauh mana kerusakan yang menimpa ruangan tersebut. Dengan mengendap-endap, akhirnya tiba ke ruangan yang dituju. Namun, serdadu-serdadu Israel kembali menggempur dan memaksanya kembali lagi dapur yang yang disambut isteri dan anak-anaknya dengan penuh cemas.
Sekitar pukul 17: 45, setelah minum secangkir teh, Abu Armelah kembali ingin menyaksikan kondisi ruang tamu. Sang isteri pun menolak ide bahaya itu, namun Abu Armelah bersikeras dan mengatakan, “Apa yang harus kamu takutkan, wahai Hallah, saya bisa menjaga diri. Yang akan mati sudah dicatat oleh-Nya.” Hanya berselang beberapa saat setelah Abu Armelah menuju ruang tamu, sang isteri mendengar suara desingan peluru yang dilepaskan sniper Israel yang ada di atap-atap bangunan tinggi, kemudian disusul suara teriakan suaminya. Ketika Hallah tiba di ruang tamu bersama ketiga anaknya, darah mulai bercucuran keluar dari kepala, mulut dan hidung suaminya. Sedikit demi sedikit tubuh Abu Armelah lunglai merebah di tanah sambil melihat wajah satu per satu anak-anak kecilnya, yakin itu merupakan perpisahan terakhir dengan mereka. Tak lama kemudian sang bapak menghembuskan nafas terakhir setelah mengucapkan dua kalimat syahadat, yang disusul dengan derai tangis istri dan anak-anaknya. Setelah itu, Hallah menutup kedua mata suaminya dan menyeretnya ke dapur yang menjadi tempat tidur keluarga ini. Ia diamkan jenazah suaminya di dapur sejak serdadu-serdadu Israel menyerbu Kamp Pengungsi Jenin.
Hallah berusaha memberitahu pihak Palang Merah Palestina, namun pihak palang merah menyampaikan permohonan maaf karena mobil mereka tidak bisa sampai ke rumahnya, dihadang oleh serdadu-serdadu Israel. Selama seminggu, sudah ratusan kali dia berharap ikut bersama suami yang syahid; dan selama itu pula anak-anaknya terus bertanya tentang kondisi bapaknya. Sungguh betapa teriris hati sang ibu oleh kepolosan anak-anaknya, sampai-sampai anaknya yang paling kecil, Rami, sering menggerak-gerakan tubuh bapaknya membangunkan dan minta dibelikan susu.
Setelah tujuh hari, sebuah mobil ambulans baru bisa datang ke rumahnya dan membawa jenazah suaminya ke Rumah Sakit, setelah itu dimakamkan dalam kuburan massal yang telah dipersiapkan oleh penduduk di bagian barat kamp tersebut.
Itu adalah satu di antara ratusan bahkan ribuan kisah pilu yang menimpa saudara-saudara kita di bumi para nabi, Palestina. Dan itu masih terus berlangsung hingga hari ini. Masihkah tersisa empati kita buat mereka; man laa yahtam biamril muslimin falaisa minhum, demikian kata Rasulullah, ”barang siapa yang tidak peduli dengan kaum muslimin, maka dia bukan termasuk golongan mereka.” (seto)
Kisah Hidup Kepahlawanan Perang Jenin
(Hari ke 1,2,3,4)

Laporan ini merupakan sebuah klarifikasi dari Al Markaz Al Falistini Lil I’lam (Palestinian Information Center) dengan seorang kader Kataib Al Qassam dan pejuang (muqatil) yang ikut serta dalam perang di Kamp Pengungsi Jenin. Peristiwa itu diungkapkan kepada PIC pada sebuah pertemuan yang diatur secara rahasia karena kondisi keamanan yang tidak memungkinkan bagi putra-putra pejuang Palestina, terutama mereka yang menjadi buruan dan buronan imperialis Israel. Peristiwa yang beliau kisahkan ini seputar apa yang terjadi dalam empat hari pertama Perang Jenin.
Sambil mengenang peristiwa-peristiwa yang telah terjadi, rasa bangga dan sedih bercampur menjadi satu secara bersamaan, pejuang Perang Jenin ini – selanjutnya disebut Muqatil (pejuang) – mengisahkan perang kepahlawanan di Kamp Pengungsi Jenin. Di sini seluruh kemampuan faksi-faksi perlawanan rakyat Palestina dikerahkan; meraka bahu membahu untuk memberikan pelajaran pahit kepada Imperialis Israel. Berikut penuturannya:
Hari Pertama
Baca entri selengkapnya »