Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang

Arsip untuk ‘Jihad’ Kategori

Mati Syahid

Ditulis oleh meisusilo di/pada 2 April 2009

 image

Allah memberikan kepada orang yang mati syahid dengan 7 keutamaan, yaitu:

1. Bau darahnya seperti aroma misk

“Demi dzat yang jiwaku ditanganNya! Tidaklah seseorang dilukai dijalan Allah-dan Allah lebih tahu siapa yang dilukai dijalanNya-melainkan dia akan datang pada hari kiamat : berwarna merah darah sedangkan baunya bau misk” (HR. Ahmad dan Muslim)

Dr. Abdullah Azzam menyampaikan, “Subhanallah ! Sungguh kita telah menyaksikan hal ini pada kebanyakan orang yang mati syahid. Bau darahnya seperti aroma misk (minyak kasturi). Dan sungguh disakuku ada sepucuk surat-diatasnya ada tetesan darah Abdul wahid(Asy Syahid, insya Allah)- dan telah tinggal selama 2 bulan, sedangkan baunya wangi seperti misk.”

2. Tetesan darahnya merupakan salahsatu tetesan yang paling dicintai Allah.

“Tidak ada sesuatu yang dicintai Allah dari pada dua macam tetesan atau dua macam bekas : tetesan air mata karena takut kepada Allah dan tetesan darah yang tertumpah dijalan Allah; dan adapun bekas itu adalah bekas (berjihad) dijalan Allah dan bekas penunaian kewajiban dari kewajiban-kewajiban Allah” (HR. At Tirmidzi – hadits hasan)

3. Ingin dikembalikan lagi kedunia (untuk syahid lagi)

4. Ditempatkan disurga firdaus yang tertinggi

5. Arwah Syuhada ditempatkan ditembolok burung hijau

6. Orang yang mati syahid itu hidup

7. Syahid itu tidak merasakan sakitnya pembunuhan

“Orang yang mati syahid itu tidak merasakan (kesakitan) pembunuhan kecuali sebagaiman seorang diantara kalian merasakan (sakitnya) cubitan.” (HR. Ahmad, At Tirmidzi, An Nasa’i – hadits hasan)

dan diriwayat yang shahih :

“Orang yang mati syahid itu tidak mendapatkan sentuhan pembunuhan kecuali sebagaimana salah seorang diantara kalian mendapatkan cubitan yang dirasakannya.”

Dr. Abdullah Azzam menceritakan, ” Kami melihat hal ini pada saudara kami, Khalid al-kurdie dari madinah al Munawwaroh ketika ranjau meledak mengenainya, sehingga terbang kakinya, terbelah perutnya, keluar ususnya dan terkena luka ringan pada tangan luarnya. Datanglah Dr. Shalih al-Laibie mengumpulkan ususnya dan mengembalikan kedalam perutnya seraya menangislah Dr. Shalih. Maka bertanyalah Khalid al-Kurdie kepadanya : “Mengapa engkau menangis, dokter? Ini adalah luka ringan pada tanganku.” dan tinggalah dia berbincang-bincang dengan meraka selama 2 jam hingga akhirnya ia menjumpai Allah. Dia tidak merasakan bahwasanya kakinya telah terpotong dan perutnya terbuka.”

Technorati Tags: ,,,

Ditulis dalam Islam, Jihad | 2 Komentar »

20 tahun Fatwa Mati Salman Rushdi

Ditulis oleh meisusilo di/pada 27 Maret 2009

Saleh Lapadi
image image Penghinaan terhadap Nabi Muhammad saw tidak pernah berhenti di Barat. Benar, Imam Khomeini pernah mengeluarkan fatwa hukuman mati atas Salman Rushdi. Namun, penghinaan terhadap Nabi Islam, Muhammad saw tidak pernah selesai. Permusuhan Barat terhadap Islam masih tetap berlangsung.

Pemuatan karikatur yang menghina Nabi Muhammad saw di Denmark masih satu jalur dengan Ayat-ayat Setan Salman Rushdi.

Sekalipun didemo di mana-mana, masih saja di sebagian negara-negara seperti Inggris, Azerbaijan dan terakhir Prancis yang proses pengadilannya tengah berlangsung, melakukan penghinaan.

Dengan nama-Nya Yang Maha Tinggi

image Inna Lillahi Wa Inna Ilahi Rajiuun.

Saya beritahukan kepada kaum muslimin pemberani di seluruh dunia. Telah diterbitkan buku Ayat-ayat Setan yang menghina Islam, Nabi dan al-Quran. Penulis serta penerbit buku itu hukumannya adalah MATI!

Saya mengharap kepada seluruh kaum muslimin pemberani yang menemukan mereka di mana saja untuk membunuh mereka. Sehingga tidak ada lagi orang yang berani menghina hal-hal yang disucikan oleh kaum muslimin.

Siapa saja yang mati dalam usaha membunuh mereka, terhitung sebagai syahid Insya Allah. Perlu diketahui, bila seseorang mengetahui keberadaan si penulis buku, namun ia sendiri tidak dapat membunuhnya, maka ia harus mengabarkan kepada orang lain sehingga mereka yang akan melakukan pembunuhan itu dan ia dapat merasakan akibat dari amal perbuatannya.
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

25/11/1367 (14 Pebruari 1989)
Ruhullah al-Musawi al-Khomeini

Pendahuluan

image Tanpa terasa, fatwa hukuman mati Salman Rushdi yang dikeluarkan oleh Imam Khomeini telah berumur 18 tahun. Pada masa dikeluarkannya fatwa tersebut tidak ada yang membayangkan Imam Khomeini akan menyikapi buku Ayat-ayat Setan sekeras itu. Karena pada waktu itu, Iran baru saja menerima resolusi PBB nomor 598 yang berarti gencatan senjata dengan Irak. Dengan itu, Iran tentu disibukkan dengan usaha untuk melakukan perdamaian.

Semua lupa akan prinsip-prinsip berpikir Imam Khomeini. Pikirannya melewati batas-batas teritorial Iran dan orang-orang Iran. Imam Khomeini dalam segala urusannya hanya untuk Allah dan agama. Ia senantiasa berusaha untuk itu dan tidak pernah menunjukkan keletihan dalam masalah ini. Ketika Imam Khomeini mengetahui isi buku Ayat-ayat setan, ia langsung menciap kebatilan buku ini. Ada rencana di balik penerbitan buku itu. Itulah yang membuat beliau mengeluarkan fatwa bersejarahnya.

Lebih jauh tentang Salman Rushdi

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Jihad, Kajian | 1 Komentar »

Jenin, April 2002

Ditulis oleh meisusilo di/pada 26 Maret 2009

image image Jum`at (03/04/09) nanti peringatan 6 tahun pembantaian sadis nazi Israel terhadap puluhan warga Kamp Pengungsi Jenin. Ketika itu ratusan tank tempur dan buldoser Israel dikerahkan untuk melumatkan perumahan warga Palestina di Kamp Pengungsi Jenin dan membantai penghuninya. Ratusan jiwa mengalami luka-luka dan ratusan lainnya digelandang serdad-serdadu Israel di bawah todongan senjata. Hari itu (5 dan 6 April) adalah saksi abadi kebiadaban imperialis Israel atas warga sipil Palestina. dan hari itu, telah menyisakan berbagai cerita dan kisah pilu di balik kepongahan dan jumawa para serdadu bengis Israel. Berikut setitik kisah pilu warga Jenin dalam pembantaian dua hari itu.

Namanya Hallah Abu Armelah (32), tak ada pilihan bagi wanita Palestina ini kecuali mengulur pemakaman jenazah suaminya, Ateyah Abu Armelah (44) sampai 7 hari. Disamping untuk menenangkan situasi dan ketakutan anak-anaknya, dengan menjelaskan kepada mereka bahwa ayahnya sedang tidur dan tidak terjadi apa-apa pada dirinya, juga karena tidak ada bantuan medis yang datang.

Waktu itu dia bersama suami dan ketiga anaknya yang masih kecil berada di rumah tinggalnya yang terletak di sebelah tenggara Kamp Pengungsi Jenin, ketika tiba-tiba pasukan Israel menggempur kamp dengan rudal-rudal pesawat, meriam tank dan peluru dari senjata buru sergap. Hari itu, Jum’at (5/04/2002) pukul 17.00 waktu setempat, keluarga Abu Armelah berlindung di dapur. Dengan prediksi bahwa ini merupakan tempat yang paling aman di dalam rumah yang sedang dibombardir militer imperialis Israel.

“Suami saya menanyakan sebesar apa kerusakan yang terjadi di ruangan tamu,” tutur Hallah. Dia katakan tidak tahu persis sebesar apa, tetapi dia melihat dua lobang besar menganga di tembok. Dia yakin itu akibat diterjang rudal atau dihantam meriam tank Israel. Sang suami, yang telah bertahun-tahun membangun rumah sederhana itu, tetap ingin melihat sejauh mana kerusakan yang menimpa ruangan tersebut. Dengan mengendap-endap, akhirnya tiba ke ruangan yang dituju. Namun, serdadu-serdadu Israel kembali menggempur dan memaksanya kembali lagi dapur yang yang disambut isteri dan anak-anaknya dengan penuh cemas.

Sekitar pukul 17: 45, setelah minum secangkir teh, Abu Armelah kembali ingin menyaksikan kondisi ruang tamu. Sang isteri pun menolak ide bahaya itu, namun Abu Armelah bersikeras dan mengatakan, “Apa yang harus kamu takutkan, wahai Hallah, saya bisa menjaga diri. Yang akan mati sudah dicatat oleh-Nya.” Hanya berselang beberapa saat setelah Abu Armelah menuju ruang tamu, sang isteri mendengar suara desingan peluru yang dilepaskan sniper Israel yang ada di atap-atap bangunan tinggi, kemudian disusul suara teriakan suaminya. Ketika Hallah tiba di ruang tamu bersama ketiga anaknya, darah mulai bercucuran keluar dari kepala, mulut dan hidung suaminya. Sedikit demi sedikit tubuh Abu Armelah lunglai merebah di tanah sambil melihat wajah satu per satu anak-anak kecilnya, yakin itu merupakan perpisahan terakhir dengan mereka. Tak lama kemudian sang bapak menghembuskan nafas terakhir setelah mengucapkan dua kalimat syahadat, yang disusul dengan derai tangis istri dan anak-anaknya. Setelah itu, Hallah menutup kedua mata suaminya dan menyeretnya ke dapur yang menjadi tempat tidur keluarga ini. Ia diamkan jenazah suaminya di dapur sejak serdadu-serdadu Israel menyerbu Kamp Pengungsi Jenin.

Hallah berusaha memberitahu pihak Palang Merah Palestina, namun pihak palang merah menyampaikan permohonan maaf karena mobil mereka tidak bisa sampai ke rumahnya, dihadang oleh serdadu-serdadu Israel. Selama seminggu, sudah ratusan kali dia berharap ikut bersama suami yang syahid; dan selama itu pula anak-anaknya terus bertanya tentang kondisi bapaknya. Sungguh betapa teriris hati sang ibu oleh kepolosan anak-anaknya, sampai-sampai anaknya yang paling kecil, Rami, sering menggerak-gerakan tubuh bapaknya membangunkan dan minta dibelikan susu.

Setelah tujuh hari, sebuah mobil ambulans baru bisa datang ke rumahnya dan membawa jenazah suaminya ke Rumah Sakit, setelah itu dimakamkan dalam kuburan massal yang telah dipersiapkan oleh penduduk di bagian barat kamp tersebut.

Itu adalah satu di antara ratusan bahkan ribuan kisah pilu yang menimpa saudara-saudara kita di bumi para nabi, Palestina. Dan itu masih terus berlangsung hingga hari ini. Masihkah tersisa empati kita buat mereka; man laa yahtam biamril muslimin falaisa minhum, demikian kata Rasulullah, ”barang siapa yang tidak peduli dengan kaum muslimin, maka dia bukan termasuk golongan mereka.” (seto)

Kisah Hidup Kepahlawanan Perang Jenin
(Hari ke 1,2,3,4)
 
image Laporan ini merupakan sebuah klarifikasi dari Al Markaz Al Falistini Lil I’lam (Palestinian Information Center) dengan seorang kader Kataib Al Qassam dan pejuang (muqatil) yang ikut serta dalam perang di Kamp Pengungsi Jenin. Peristiwa itu diungkapkan kepada PIC pada sebuah pertemuan yang diatur secara rahasia karena kondisi keamanan yang tidak memungkinkan bagi putra-putra pejuang Palestina, terutama mereka yang menjadi buruan dan buronan imperialis Israel. Peristiwa yang beliau kisahkan ini seputar apa yang terjadi dalam empat hari pertama Perang Jenin.
 
Sambil mengenang peristiwa-peristiwa yang telah terjadi, rasa bangga dan sedih bercampur menjadi satu secara bersamaan, pejuang Perang Jenin ini – selanjutnya disebut Muqatil (pejuang) – mengisahkan perang kepahlawanan di Kamp Pengungsi Jenin. Di sini seluruh kemampuan faksi-faksi perlawanan rakyat Palestina dikerahkan; meraka bahu membahu untuk memberikan pelajaran pahit kepada Imperialis Israel. Berikut penuturannya:
 
Hari Pertama

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Intifadah, Jihad, Palestina | Leave a Comment »