Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang

Arsip untuk ‘Intifadah’ Kategori

Jenin, April 2002

Ditulis oleh meisusilo di/pada 26 Maret 2009

image image Jum`at (03/04/09) nanti peringatan 6 tahun pembantaian sadis nazi Israel terhadap puluhan warga Kamp Pengungsi Jenin. Ketika itu ratusan tank tempur dan buldoser Israel dikerahkan untuk melumatkan perumahan warga Palestina di Kamp Pengungsi Jenin dan membantai penghuninya. Ratusan jiwa mengalami luka-luka dan ratusan lainnya digelandang serdad-serdadu Israel di bawah todongan senjata. Hari itu (5 dan 6 April) adalah saksi abadi kebiadaban imperialis Israel atas warga sipil Palestina. dan hari itu, telah menyisakan berbagai cerita dan kisah pilu di balik kepongahan dan jumawa para serdadu bengis Israel. Berikut setitik kisah pilu warga Jenin dalam pembantaian dua hari itu.

Namanya Hallah Abu Armelah (32), tak ada pilihan bagi wanita Palestina ini kecuali mengulur pemakaman jenazah suaminya, Ateyah Abu Armelah (44) sampai 7 hari. Disamping untuk menenangkan situasi dan ketakutan anak-anaknya, dengan menjelaskan kepada mereka bahwa ayahnya sedang tidur dan tidak terjadi apa-apa pada dirinya, juga karena tidak ada bantuan medis yang datang.

Waktu itu dia bersama suami dan ketiga anaknya yang masih kecil berada di rumah tinggalnya yang terletak di sebelah tenggara Kamp Pengungsi Jenin, ketika tiba-tiba pasukan Israel menggempur kamp dengan rudal-rudal pesawat, meriam tank dan peluru dari senjata buru sergap. Hari itu, Jum’at (5/04/2002) pukul 17.00 waktu setempat, keluarga Abu Armelah berlindung di dapur. Dengan prediksi bahwa ini merupakan tempat yang paling aman di dalam rumah yang sedang dibombardir militer imperialis Israel.

“Suami saya menanyakan sebesar apa kerusakan yang terjadi di ruangan tamu,” tutur Hallah. Dia katakan tidak tahu persis sebesar apa, tetapi dia melihat dua lobang besar menganga di tembok. Dia yakin itu akibat diterjang rudal atau dihantam meriam tank Israel. Sang suami, yang telah bertahun-tahun membangun rumah sederhana itu, tetap ingin melihat sejauh mana kerusakan yang menimpa ruangan tersebut. Dengan mengendap-endap, akhirnya tiba ke ruangan yang dituju. Namun, serdadu-serdadu Israel kembali menggempur dan memaksanya kembali lagi dapur yang yang disambut isteri dan anak-anaknya dengan penuh cemas.

Sekitar pukul 17: 45, setelah minum secangkir teh, Abu Armelah kembali ingin menyaksikan kondisi ruang tamu. Sang isteri pun menolak ide bahaya itu, namun Abu Armelah bersikeras dan mengatakan, “Apa yang harus kamu takutkan, wahai Hallah, saya bisa menjaga diri. Yang akan mati sudah dicatat oleh-Nya.” Hanya berselang beberapa saat setelah Abu Armelah menuju ruang tamu, sang isteri mendengar suara desingan peluru yang dilepaskan sniper Israel yang ada di atap-atap bangunan tinggi, kemudian disusul suara teriakan suaminya. Ketika Hallah tiba di ruang tamu bersama ketiga anaknya, darah mulai bercucuran keluar dari kepala, mulut dan hidung suaminya. Sedikit demi sedikit tubuh Abu Armelah lunglai merebah di tanah sambil melihat wajah satu per satu anak-anak kecilnya, yakin itu merupakan perpisahan terakhir dengan mereka. Tak lama kemudian sang bapak menghembuskan nafas terakhir setelah mengucapkan dua kalimat syahadat, yang disusul dengan derai tangis istri dan anak-anaknya. Setelah itu, Hallah menutup kedua mata suaminya dan menyeretnya ke dapur yang menjadi tempat tidur keluarga ini. Ia diamkan jenazah suaminya di dapur sejak serdadu-serdadu Israel menyerbu Kamp Pengungsi Jenin.

Hallah berusaha memberitahu pihak Palang Merah Palestina, namun pihak palang merah menyampaikan permohonan maaf karena mobil mereka tidak bisa sampai ke rumahnya, dihadang oleh serdadu-serdadu Israel. Selama seminggu, sudah ratusan kali dia berharap ikut bersama suami yang syahid; dan selama itu pula anak-anaknya terus bertanya tentang kondisi bapaknya. Sungguh betapa teriris hati sang ibu oleh kepolosan anak-anaknya, sampai-sampai anaknya yang paling kecil, Rami, sering menggerak-gerakan tubuh bapaknya membangunkan dan minta dibelikan susu.

Setelah tujuh hari, sebuah mobil ambulans baru bisa datang ke rumahnya dan membawa jenazah suaminya ke Rumah Sakit, setelah itu dimakamkan dalam kuburan massal yang telah dipersiapkan oleh penduduk di bagian barat kamp tersebut.

Itu adalah satu di antara ratusan bahkan ribuan kisah pilu yang menimpa saudara-saudara kita di bumi para nabi, Palestina. Dan itu masih terus berlangsung hingga hari ini. Masihkah tersisa empati kita buat mereka; man laa yahtam biamril muslimin falaisa minhum, demikian kata Rasulullah, ”barang siapa yang tidak peduli dengan kaum muslimin, maka dia bukan termasuk golongan mereka.” (seto)

Kisah Hidup Kepahlawanan Perang Jenin
(Hari ke 1,2,3,4)
 
image Laporan ini merupakan sebuah klarifikasi dari Al Markaz Al Falistini Lil I’lam (Palestinian Information Center) dengan seorang kader Kataib Al Qassam dan pejuang (muqatil) yang ikut serta dalam perang di Kamp Pengungsi Jenin. Peristiwa itu diungkapkan kepada PIC pada sebuah pertemuan yang diatur secara rahasia karena kondisi keamanan yang tidak memungkinkan bagi putra-putra pejuang Palestina, terutama mereka yang menjadi buruan dan buronan imperialis Israel. Peristiwa yang beliau kisahkan ini seputar apa yang terjadi dalam empat hari pertama Perang Jenin.
 
Sambil mengenang peristiwa-peristiwa yang telah terjadi, rasa bangga dan sedih bercampur menjadi satu secara bersamaan, pejuang Perang Jenin ini – selanjutnya disebut Muqatil (pejuang) – mengisahkan perang kepahlawanan di Kamp Pengungsi Jenin. Di sini seluruh kemampuan faksi-faksi perlawanan rakyat Palestina dikerahkan; meraka bahu membahu untuk memberikan pelajaran pahit kepada Imperialis Israel. Berikut penuturannya:
 
Hari Pertama

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Intifadah, Jihad, Palestina | Leave a Comment »

Bin Laden : Masuk Yordan, Bebaskan Aqsha

Ditulis oleh meisusilo di/pada 19 Maret 2009

image Osama Bin Laden, menyerukan para pengikutnya memasuki Yordania, dan membebaskan al-Aqsha, pernyataannya itu, disampaikan melalui video, yang dilansir oleh Middle East Media Reseach Institute (MEMRI). Video yang direlease MEMRI itu, panjangnya 33 menit, dan dalam pernyataannya itu, Bin Laden menyatakan, memberikan mandat kepada para pejuang ‘ muslim’ untuk memotong kepala para pemimpin negara-negara yang berbatasan dengan Israel, termasuk Yordan, mereka lah yang membuat penderitaan para mujahidin.

Yordan merupakan negara yang berbatasan langsung dengan Israel, yang selama ini, membela dan membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Hanya Yordania dan Mesir, di antara anggota Liga Arab, yang mempunyai hubungan resmi dengan Israel.

Hubungan diplomatik inilah yang menyebabkan negara-negara Arab yang berada di garis depan (front line) dengan Israel, tidak dapat berbuat banyak dalam menghadapi Israel, dan cenderung berkolaborasi dengan Israel. Sehingga, mereka tidak memberikan dukungan secara terbuka terhadap rakyat Palestina, yang menghadapi penjajahan Israel. Ini merupakan akibat perang yang terjadi di tahun 1967 dan 1973, di mana negara-negara Arab garis depan dikalahkan Israel.

Bin Laden menegaskan kemenangan di Iraq, memberikan kesempatan bagi para pejuang Islam, yang telah memenangkan perang di Iraq, memasuki Yordania, terus ke Tepi Barat, dan dari wilayah ini, dapat masuk ke Palestina. “Beberapa bulan mendatang, segala sesuatu akan  pergi ke Yordan”, ujar Eli al Shech, seperti dikutip MEMRI. Ini menggambarkan perkembangan baru di Timur Tengah, yang menunjukkan arah yang semakin kuatnya pengaruh gerakan al-Qaidah.

Tapi, semua ini, tak lain semakin skeptisnya para penguasa Israel, yang melihat perkembangan bangkitnya umat Islam di Yordania, yang akhir-akhir ini semakin menampakkan jati dirinya. Hal ini, dipicu adanya serangan tentara Zionis-Israel ke Gaza, yang menimbulkan korban warga Gaza, yang cukup besar. Kemarahan dikalangan umat Islam di Yordania ini, mendorong mereka untuk berusaha membebaskan Palestina, termasuk al-Aqsha, yang sekarang ini menghadapi bahaya besar, di mana Zionis Israel, terus menggali terowongan yang mengancam Masjidil Aqsha, yang lama-lama dapat hancur.

Di Yordania, dua pertiga penduduk negeri itu adalah warga Palestina, sejak mereka diusir dari tanah air mereka oleh Zionis Israel. Bahkan, dikalangan para pemimpin Israel, mereka menyerukan agar warga Palestina, menggabungkan diri dengan Yordania, dan tidak mendirikan negara Palestina. Inilah cara Israel untuk mengusir penduduk Palestina dari tanah air mereka.

Bin Laden juga menuduh, sekarang ini, yang terkena pengaruh jahat itu, bukan hanya para kepala negara Arab, tapi juga kalangan lapisan kedua seperti ilmuwan, para pekerja media, dan ikut berkomplot dengan musuh. Mereka lapisan kedua, para ilmuwan, dan para wartawan dan editor, yang ikut mempengaruhi para kepala pemerintahan, ujar Ben Laden.

“Ben Laden melihat adanya ancaman idelogi, yang tumbuh semakin kuat”, ujar al-Syech. “Perlu dilakukan pembentukan kekuatan baru, yang membebaskan pikiran dan hati kaum musimin”, kata Ben Laden. (m/jp/eramuslim.com)

Ditulis dalam Intifadah, Jihad, Palestina | Leave a Comment »

Yvonne Ridley : Pendekar Intifadah dari London

Ditulis oleh meisusilo di/pada 17 Maret 2009

image 

Yvonne Ridley, wartawati-feminis Inggris, yang menjadi mualaf setelah ditawan Taliban, dan kini menjadi pembela Islam di Inggris. Berikut ini adalah ceramah Yvonne Ridley beberapa tahun lalu di Global Peace & Unity Conference, London, tepatnya pada tanggal 30 November 2006. Mudah-mudahan bisa jadi informasi bagi saudara-saudara yang belum mengetahui sebelumnya.

Awalnya saya ingin mempersembahkan pidato saya di Global Peace and Unity Conference ini kepada Imam Anwar Al-Awlaki-seorang ulama terkemuka dan dihormati di komunitas Muslim berbahasa Inggris “yang ditahan di Yaman dua bulan yang lalu. Namun, saya juga harus berterima kasih kepada saudara Fahad Ansari dari Islamic Human Rights Commussion, penulis artikel “God Save The Deen”, yang menginspirasi saya menulis ceramah ini. Sebagian besar isi ceramah ini terinspirasi oleh tulisannya itu.
Keislaman saya masih amat belia, karena saya baru menjadi muslimah pada 2003 ” dan meskipun masih banyak yang harus saya pelajari, saya dapat merasakan frustasi yang dirasakan umat muslim pada saat ini. Saya tahu serangan 11 September berdampak luar biasa besar pada dunia, tapi itu bukan suatu awal ” itu adalah kelanjutan dari warisan imperalisme AS dan ketakutannya terhadap Islam.

Sekitar 10 tahun yang lalu, para pemuda Muslim dari berbagai belahan dunia membanjiri Bosnia untuk membantu saudara-saudara mereka berjuang mempertahankan diri menghadapi Serbia yang melancarkan genosida, sementara dunia hanya berdiam diri menontonnya. Jihad menyatukan Muslim dari segala kebangsaan, status, dan kultur. Semua disatukan, bahkan mereka yang tidak bisa berangkat untuk berperang berusaha mengulurkan bantuan dalam berbagai bentuk lain seperti penggalangan dana, penyelenggaraan acara penyadaran masyarakat, dan demonstrasi.

image Hasilnya, umat Muslim berhasil mematahkan usaha genosida.Dunia Barat baru melakukan intervensi setelah tampak jelas bahwa Muslim Bosnia akan meraih kemenangan.Mereka tidak bisa menerima berdirinya sebuah negara Islam di jantung Eropa, sehingga mereka pun mengitervensi. Ini buka semata-mata kesimpulan saya, tapi mantan Presiden Bill Clinton pun mengakuinya dalam autobiografinya.

Ketakutan terhadap Islam telah berkembang selama 10 tahun belakangan, sehingga darah saudara-saudara kami kini mengalir bagaikan sungai-sungai yang melintasi Chechnya, Kashmir, Palestina, Afganistan, Irak, dan baru-baru ini kita semua menyaksikan apa yang terjadi di Lebanon. Saya pernah mendatangi banyak dari ladang-ladang pembantaian ini dan izinkan saya mengatakan kepada Anda bahwa tubuh-tubuh rusak, meledak berkeping-keping dari saudara-saudara Muslim kami sama persis dengan tubuh-tubuh yang tersebar pada hari ini sangat jelas: darah Muslim adalah komoditas murah.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Intifadah, Jihad, Tokoh | 14 Komentar »