Israel Paling Takut dengan Tarbiyah Hamas
Ditulis oleh meisusilo di/pada 29 Januari 2009
Dua puluh tiga hari sudah Israel menginvasi Gaza dengan dalih menghancurkan Hamas. Tokh, tujuan mereka tidak tercapai selain jatuhnya korban sipil tak berdosa.
Lihat saja daftar statistik berikut: Korban Palestina menurut para petugas medis Gaza; 1.205 orang tewas, termasuk 410 anak-anak (di bawah 6 tahun), 108 wanita, 113 pria lansia, 14 petugas medis, dan 4 wartawan.
Sedangkan korban luka mencapai 5.300 orang. Israel menyumbang 13 orang tewas dalam pertempuran dan serangan roket; 10 tentara dan 3 penduduk sipil.
Selain korban nyawa, agresi brutal penjajah Zionis itu juga menyebabkan hancurnya sejumlah bangunan, mulai dari gedung pemerintah, masjid, sekolah, dan rumah-rumah penduduk.
Total kerugian infrastruktur yang dialami Gaza diperkirakan mencapai 1,9 miliar dolar AS. Sementara itu, data pejuang Hamas yang tewas masih belum jelas benar.
Harian Belanda de Volkskrant menilai, Israel kalah dalam perang propaganda melawan Hamas.
“Secara militer Hamas mungkin mengalami pukulan berat. Tapi gerakan yang punya banyak kegiatan ini tidak bisa dikalahkan hanya dengan cara militer. Kasus Hamas hampir sama dengan kasus Hizbullah di Libanon. Israel kemungkinan besar sudah kalah dalam perang propaganda.
Penolakan Israel untuk mengizinkan wartawan masuk ke kawasan pertempuran memang melindungi militer dari pandangan pengamat yang tidak diinginkan. Namun ini justru memberi pihak lawan kesempatan melaksanakan propragandanya,” komentar koran ini.
Dengan persenjataan dan peralatan tempur yang serba minim, ternyata Hamas mampu meladeni serangan biadab Israel yang membabi-buta dan tak kenal ampun itu. Bahkan ada teori yang mengemuka, Israel tidak berani melakukan perang kota (darat) secara terbuka dengan Hamas sehingga memilih gencatan senjata secara sepihak. Mereka hanya berani menebar maut lewat tank dan pesawat tempur.
Apa yang menyebabkan Hamas sekuat itu?
Menurut peneliti sejarah INSIST, Asep Sobari, kekuatan Hamas sebenarnya bukan terletak pada kemampuan militer, namun justru pada pola tarbiyah (pendidikan) mereka. “Inilah yang membuat Hamas sanggup bertahan. Dan ini pula yang paling ditakuti Israel,” kata Asep. Siapa dan bagaimana Hamas sebenarnya hingga sangat dimusuhi dan ingin dihancurkan oleh Zionis Israel?
Berikut penuturan penerjemah buku-buku Islam ini kepada wartawan Sabili Chairul Akhmad dan fotografer Arief Kamaludin.
Bagaimana sejarah munculnya Hamas?
Akar keseluruhannya berawal dari kekalahan bangsa Arab melawan Israel sejak tahun 1948 hingga tahun 1973 silam. Hamas lahir dari kesadaran lokal rakyat Palestina, walau juga terinspirasi banyak hal dari luar. Tapi yang paling penting waktu itu adalah bahwa masalah Palestina adalah sentral isu Arab. Pan-Arabismenya masih kuat.
Tapi, kemudian ditinggalkan menjadi isu PLO (Palestina Liberation Organization) dan kini menjadi isu Hamas. Berdasarkan fakta-fakta itu (sering kalah) ada catatan-catatan penting, bahwa ternyata pada waktu itu masyarakat Palestina sendiri tidak dalam kondisi ideal.
Artinya, mereka bukan orang-orang yang dimungkinkan untuk bertahan dalam kondisi itu. Mereka sendiri labil dan sebagainya. Di sinilah muncul kesadaran untuk membangkitkan orang-orang lokal, orang Palestina, terutama dimotori oleh Syekh Ahmad Yassin.
Beliau termasuk pendiri dan orang-orang pertama dalam lingkaran Hamas. Bahkan termasuk sosok yang melahirkan intifadha yang menjadi inti dari gerakan Hamas. Beliau adalah mursyid dan tokoh spiritual Hamas. Dan memang kondisi fisik (yang lumpuh –red) Syekh Ahmad Yassin itulah yang membuat orang-orang Palestina betul-betul terinspirasi dan tergugah.
Syekh Yassin terus bergerak tiada henti. Semua tokoh dan lini di Palestina didekati walau dalam kondisi yang sangat terbatas. Ternyata kondisi yang terbatas itulah yang mampu membuat rakyat Palestina bergerak dan melakukan intifadha. Kemudian faktor lain yang perlu diperhatikan adalah, Syekh Ahmad Yassin itu adalah seorang guru.
Kapasitasnya sebagai guru yang membuatnya menonjol, kemudian diteladani dan dituruti. Ketika menjadi guru pun kegiatan Syekh Ahmad Yassin sangat sibuk. Inilah yang menginspirasi anak-anak sekolah sehingga militansi mereka tumbuh secara luar biasa.
Sebenarnya, Hamas itu bukan lahir dari emosi saja, walau itu ada karena mereka dalam posisi terjajah. Tapi ketika masuk instrumen pendidikan dengan penuh kesadaran dan adanya proses tazkiyah, lalu muncullah proses regenerasi.
Ada yang mengatakan Hamas muncul tahun 1987?
Mengukur Hamas itu darimana? Kalau mulai intifadha memang tahun 1987, tapi intifadha kan sebenarnya deklarasi sebuah gerakan yang sudah siap. Hamas muncul jauh sebelum itu. Saya rasa pascaperang tahun 1973 mereka sudah mulai membangun gerakan.
Ada pengaruh dari gerakan Ikhwanul Muslimin?
Saya kira pasti ada, karena pola-pola tarbiyah informal Hamas adalah pola-pola tarbiyah ikhwan.
Secara ideologi bagaimana?
Hamas tidak melahirkan ideologi baru, mereka adalah gerakan. Mereka adalah orang-orang Sunni.
Strategi dan taktik perjuangan Hamas seperti apa?
Pertama yang perlu digarisbawahi adalah pendidikan, baik formal maupun informal. Hal ini merujuk pada sosok Syekh Ahmad Yassin yang seorang guru dan pengajar. Pengaruh Syekh Yassin ini sangat luar biasa besarnya.
Bahkan hingga kini disinyalir di Palestina itu paling banyak doktor-nya di dunia, jika dibandingkan dengan jumlah penduduknya. Jadi, pendidikan bukan masalah remeh di sana. Semangat pendidikan orang Palestina sangat tinggi sekali.
Dalam satu kali wisuda di Palestina terdapat 3.500 anak-anak yang hafizh (hafal) Qur’an. Ini menunjukkan semangat pendidikan orang Palestina tidaklah kecil. Oleh sebab itu, kenapa Israel begitu brutal menyerang anak-anak, karena di sisi lain kita harus sadar bahwa Israel itu juga sangat mementingkan pendidikan di negaranya.
Apalagi pendidikan anak-anak mereka. Dan pendidikan anak-anak di Israel sangat ideologis. Dan Israel tahu, bahwa Hamas juga melakukan pendidikan yang ideologis juga. Hal ini menakutkan Israel karena mereka tahu hasilnya luar biasa. Oleh karena itu, menurut saya, faktor pendidikan itu adalah yang terpenting di Hamas.
Sejak kapan Hamas beralih ke perjuangan fisik melawan Israel?
Saya rasa itu adalah kebutuhan yang konkret di sana, karena mau tidak mau Hamas akan berbenturan dengan Yahudi. Hamas itu sangat tahu ideologi Yahudi yang tidak akan membiarkan rakyat Palestina ada di negerinya sampai kapan pun, kecuali bangsa Palestina mau ikut dengan cara-cara Yahudi. Itu sudah pasti.
Sehingga masalah militer menjadi sesuatu yang tidak bisa dielakkan karena merupakan kebutuhan yang riil.
Gerakan militer Hamas ini muncul sejak ada bibit-bibit bentrokan dengan Israel, namun mengkristal sejak Israel terus melakukan serangan ke Palestina.
Bentuk perjuangan lain Hamas seperti apa?
Selain tarbiyah dan militer, sejauh yang saya amati, tidak ada yang lebih signifikan dari mereka selain membangun kekuatan internalnya. Dan ini sebenarnya merupakan perlawanan Hamas yang paling konkret. Ini juga terkait dengan pengalaman masa lalu di mana mereka sering kalah karena memang tidak siap di dalam. Dan masyarakat Palestina sendiri tidak dalam kondisi ideal.
Artinya, ketika kekuatan internal (imunitas) itu sudah dibangun orang akan jadi imun. Kalau sudah imun, walau kena hujan seperti apa pun, orang tidak akan mudah pilek. Oleh sebab itu, sekarang semangat orang-orang Palestina justru kian menguat dan semakin mendukung Hamas. (Asep Sobari, Lc/sabili)
Biodata:
Nama lengkap : Asep Sobari, Lc.
Tempat tanggal lahir : Kuningan, 27 April 1976
Pendidikan :
- KMI Pondok Modern Gontor Ponorogo 1994
- S1 Islamic University of Madinah 1999
- S2 Universiti Kebangsaan Malaysia (belum selesai)
Pekerjaan :
- Peneliti sejarah INSIST (Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations)
- Staf pengajar Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI) Husnayain Jakarta
- Staf pengajar Ar-Rahmah Qur’anic Learning (AQL) Jakarta
- Penerjemah
Istri : Rodna Gumintang
Anak : 3 orang








.jpg)









globalmalau berkata
Rupanya mereka memiliki jiwa yang kental..Terima kaseh bang kerna artikel bagus
amsar berkata
ALLAH SWT akan menolong orang yang menolong agamanya,