Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang

Arsip untuk Januari, 2009

Tentara Bayaran AS Blackwater Mulai Tinggalkan Iraq

Ditulis oleh meisusilo di/pada 31 Januari 2009

lackwater Worldwide, tentara elit bayaran Amerika yang “disewa” ke Iraq mulai ditarik. Sebelum ini, banyak warga sipil menjadi sasarannya

image image Hidayatullah.com—Pihak pejabat Amerika mengatakan, pasukan Blackwater akan meninggalkan Baghdad dalam masa 72 jam selepas operasinya diakhiri. Bagaimanapun, pendiri Blackwater, Erik Prince mengatakan, sementara perusahaan yang berpangkalan di Carolina Utara itu turut kehilangan kontrak dengan Washington, tindakan meninggalkan Iraq hanya akan menggugat keselamatan diplomat sejak peperangan menjatuhkan regim Saddam Hussein.

“Kami sudah tidak mendapat komunikasi resmi dari pemerintah Iraq atau pelanggan kami atas status kontrak itu atau masa depan kerja kami di Iraq,” ujar Erik Prince.

Erik Prince, adalah bekas perwira yang dianggap memiliki kari bersinar di Navy SEAL yang berhenti ditengah jalan karena kematian ayahnya.

Perusahaan Blackwater diduga sudah menerima bayaran sebesar $1,3 milyar dasawarsa ini. Kebanyakan merupakan hasil lewat kontrak jasa keamanan di Iraq. Namun perusahaan jasa keamaman ini menghadapi setelah kasus yang menewaskan penduduk sipil Iraq dan kasus memungut bayaran terlalu tinggi dari pemerintah Amerika.

Saksi seorang pegawai Iraq pernah mengatakan, kejadian tembak menembak pada September 2007 di Dataran Nisoor Baghdad ikut melibatkan pasukan elit bayaran dan menewaskan 17 warga sipil Iraq tak berdosa.

Bagaimanapun, kejadian ini ikut memperkeruh hubungan antara Washington dan Baghdad sehingga menyebabkan semakin merebaknya perasaan anti Amerika di Iraq.

Sampai saat ini, sudah lima bekas pengawal Blackwater mengaku bersalah. [afp/rtr/www.hidayatullah.com]

Technorati Tags:

Ditulis dalam Kajian | Leave a Comment »

Akhir "Penjahat" Berkedok Tentara Bayaran di Iraq

Ditulis oleh meisusilo di/pada 31 Januari 2009

Warga Iraq mungkin agak lega. Pasaknya, tentara “bayaran” yang disewa pemerintahan Amerika, Blackwater Worldwide mulai hengkang

image Hidayatullah.com–Sebagaimana diketahui, pemerintah Iraq tidak akan memperpanjang kontrak perusahaan keamanan swasta, Blackwater Worldwide, Kamis (29/1). Perusahaan yang bertugas untuk melindungi para diplomat itu dituding telah membunuh warga sipil di Iraq selama menjalankan misinya.

“Izin operasi Blackwater tidak akan kembali diperpanjang. Mereka membunuh warga-warga sipil Iraq dengan senjata mereka,” kata Kepala Bagian Pers Departemen Penerangan Iraq Alaa al-Taie.

Dalam kesepakatan antara keamanan Iraq dan AS, November lalu, Pemerintah Iraq berhak menetapkan perusahaan swasta barat bidang keamanan yang akan beroperasi di Iraq.

“Keputusan tidak memperpanjang lagi kontrak Blackwater itu semata-mata karena Blackwater menggunakan cara-cara kekerasan,” kata juru bicara Departemen Dalam Negeri Iraq, Mayor Jenderal Abdul- Karim Khalaf.

Citra Blackwater selama menjalankan misi di Iraq, September 2007, tercoreng saat 17 warga sipil Iraq terbunuh di Nisoor Square. Lima mantan anggota tentara bayaran Blackwater didakwa membunuh ke-17 warga Iraq itu. Akan tetapi, lima orang itu menyatakan tidak bersalah di pengadilan federal Washington, AS, pada 6 Januari lalu. Sidang tentang kasus ini akan dilanjutkan tahun depan. Blackwater mengaku anak buahnya tak bersalah dan hanya bereaksi karena ada ancaman.

Perdana Menteri Iraq Nuri al-Maliki menganggap penembakan itu “pembunuhan massal”. Maliki juga langsung memprotes Pemerintah AS segera setelah kontrak Blackwater diperbarui. Segera setelah penembakan di tahun 2007 terjadi, Pemerintah Iraq menyebut anggota penjaga Blackwater sebagai “penjahat”. Sejak penembakan itu pula Iraq memperketat pengawasan atas Blackwater.

Sebagaimana diketahui Blackwater merupakan perusahaan swasta terbesar yang memberikan jasa keamanan bagi diplomat AS yang bertugas di Baghdad. Blackwater dilibatkan di Iraq dengan alasan untuk menciptakan keamanan dan ditugaskan “melawan” para mujahidin. Kelompok ini juga terlibat dalam sejumlah kasus seperti penyelundupan senjata dan pembantaian warga sipil Iraq. Pada Desember 2007 lalu, 17 warga Baghdad tewas akibat diterjang peluru yang dilepaskan oleh anggota Blackwater.

Perusahaan Blackwater Worldwide didirikan jutawan ultra konservatif Erik Prince sepuluh tahun lalu. Sejak itu perusahaan keamanan tersebut menjadi aktor terpenting di bidang jasa keamanan. Erik Prince, adalah bekas perwira yang dianggap memiliki kari bersinar di Navy SEAL yang berhenti ditengah jalan karena kematian ayahnya.

Selain ada nama Erik Prince, ada pula nama Joseph Schmitz, Direktur eksekutif perusahaan ini yang bekas Inspektur Jendral dari Departemen Pertahanan Amerika. Sedangkan dua orang Wakil Direktur, Cofer Black dan Robert Richer, adalah bekas petinggi di CIA. Kekuatan uang warisan dari ayahanda Erik Prince dipadu dengan akses ke jantung birokrasi Gedung Putih dari Schmitz dan kekuatan konsep dan akses ke pusat lembaga intelejen dari Black dan Richer, sungguh merupakan kombinasi yang amat tepat untuk menjalankan sebuah bisnis keamanan partikelir alias swasta.

Selain bertugas menjaga keamanan diplomat Amerika Serikat atau orang-orang lainnya, pengawal Blackwater juga bertugas menjaga obyek penting. Seperti pipa-pipa saluran minyak bumi. Untuk pekerjaannya mereka bisa menghasilkan 600 Dollar AS sehari. Tapi, untuk itu mereka harus menjamin suksesnya tugas, tanpa mempedulikan jumlah korban yang disebabkan oleh tindakannya.

Peristiwa yang serupa dengan penembakan di Lapangan Nissur sudah berulang kali terjadi, seiring dengan fenomena menjamurnya perusahaan keamanan yang menawarkan jasanya secara internasional. Perusahaan-perusahaan ini secara hukum bergerak di zona abu-abu. Menariknya, di Iraq mereka tidak berada di bawah hukum Iraq. Sementara di Amerika Serikat, mereka tidak berada dalam hirarki Departemen Dalam Negeri maupun Pentagon. Secara hukum liar tetapi mendapat restu Amerika.

Kongres Amerika Serikat (AS) sudah lama dan menuntut agar ada rangkaian tanggung jawab yang jelas soal perusahaan seperti Blackwater.  Namun sampai kini tak jelas nasibnya. Tapi ada informasi menarik seputar jasa keamanan ini. Menurut penulis buku “The Rise of the World’s Most Powerful“, Jeremy Scahill, sebagian uang yang dihasilkan Blackwater, akhirnya mengalir kembali ke kantong politisi pemerintah dan partai-partai yang berkuasa di AS.

Selain itu, diduga ada agenda tersembunyi  yang melibatkan negara-negara besar seperti AS. Scahill mengungkap keterlibatan Blackwater dan persenjataan swasta terbesar di AS dengan para Theocon dan pasukan milisi Kristen Sovereign Military Order of Malta, di berbagai kawasan di dunia.

Scahill menulis, perusahaan yang berbasis di Carolina Utara ini, memimpikan perusahaan mereka menjadi perusahaan jasa kurir semacam FedEx, bagi operasi-operasi pemerintah AS. Dan mimpi itu nampaknya terwujud setelah Blackwater mendapat kontrak senilai 500 juta dollar AS, terkait aktivitas perang di Iraq. Bilangan itu belum termasuk “anggaran rahasia” pemerintah AS untuk kontrak-kontrak antara Blackwater dengan agen-agen intelijen AS.

Blackwter juga mendapat kontrak dari Departemen Luar Negeri AS sebesar 300 juta dollar. Pada tahun 2003, perusahaan jasa tentara bayaran ini bahkan mendapat kontrak tanpa melalui tender dari Deplu AS untuk operasi perlindungan tehadap Paul Bremer, wakil pemerintah AS di Iraq.

Blackwater, menurut Scahill, pernah diduga mengerahkan ribuan tentara yang terlatih di Iraq dan Afganistan. Empat tentara bayarannya pernah menjadi korban penyergapan mujahidin Iraq pada tahun 2004. Keempat tentara itu dibunuh dengan cara dibakar dan tubuhnya digantung selama berjam-jam di sebuah jembatan di kota Fallujah.

Di Iraq,”tentara bayaran”  ini membekali semua petugasnya dengan senjata berat serta dilengkapi kendaraan tahan peluru dan helicopter.  

Menurut Scahill, jasa keamanan bersenjata ini diduga memiliki 20 pesawat tempur dan 20 ribu tentara yang siap terjun kapan saja sesuai pesanan.

Tapi kini, pemerintahan Iraq –khususnya warga Iraq—lebih suka menyebutnya penjahat bersenjata setelah kasus  yang menewaskan 17 warga sipil Iraq tewas dan 24 lainnya cedera di lapangan Nissur . [cha, berbagai sumber/www.hidayatullah.com]

Technorati Tags:

Ditulis dalam Kajian | 1 Komentar »

Dalam Pencarian Tentara Kafir Amerika

Ditulis oleh meisusilo di/pada 31 Januari 2009

image AFGHANISTAN (Arrahmah.com) - Abdul Shafiq, 30, dia telah mengorbankan kehidupannya dan keluarganya untuk dua hal : mendalami Al-Qur’an dan berjihad (perang)!

Setelah tahun 2001, sejak Amerika melakukan invasi ke Afghanistan, Taliban kembali tinggal di pegunungan seperti kelahirannya dahulu, melakukan sebuah misi : mengusir keluar tentara kafir dan orang-orang murtad yang mendukungnya.

Sebelum pergi berperang, biasanya dirinya meminum segelas the di depan “rumah” yang hampir tertutupi salju, di suatu tempat di Selatan Kabul, lalu menggunakan penutup wajah dan bersiap ke medan tempur.

Abdul Shafiq, serupa dengan penduduk Afghan lainnya, namun ia memiliki rasa bahagia karena dapat bergabung dengan tentara Allah lainnya.

Hari itu ia menggunakan jubah panjang berwarna krem, jaket kulit, jenggot dan rambutnya tebal, berwarna hitam, matanya yang coklat berbinar memperlihatkan kebahagiaan mendalam, tidak lupa ia menggunakan kopiah dikepalanya.

Dalam persembunyiannya di Kabul, ia hanya menghabiskan dua malam di tempat yang sama, istirahat sejenak dan kembali ke medan pertempuran.

Walau hidup dipegunungan, ia tidak ketinggalan berita, ia mendengar tentang Barack Obama, Presiden baru AS yang menurutnya “tidak akan merubah apapun”.

Cita-citanya adalah, selama tentara-tentara kafir AS masih menduduki Afghan, maka ia dan mujahidin lainnya akan berperang menghadapi mereka hingga mereka keluar dari negeri Muslim Afghanistan.

Lahir dan besar di Wardak, lalu pindah ke Kabul, dalam usia 13 tahun, ia memasuki sekolah Islam.  Ia mengingat, gurunya saat itu adalah orang yang keras, menafsirkan Islam dengan tegas.  Tidak dicampur-campur dengan pemikiran lainnya.  Yang haq adalah haq dan yang bathil adalah bathil.

mujahidin Di tahun 1994, ia bergabung dengan Taliban, mempersiapkan diri untuk berperang melawan Uni Soviet saat itu bersama mujahidin lainnya.

Saat mereka berhasil memenangkan pertempuran dan menguasai Ibukota pada 1996, “semua orang senang dan melihat Taliban sebagai kelompok Islam terdepan, mengakhiri pemerkosaan terhadap muslimah, pembunuhan dan penculikan,” ujar Shafiq.

Saat umurnya menginjak 18 tahun dan telah mengenyam beberapa pendidikan, juga telah bergabung dengan Taliban selama dua tahun, ia diberikan jabatan untuk mengurusi bidang administrasi dalam pemerintahan Taliban.

Namun, Shafiq lebih menyukai untuk melanjutkan perang, ia melakukan perjalanan ke Utara untuk memerangi Ahmad Shah Massoud, musuh Taliban.  “Beberapa pejuang sangat baik, kami menghormati mereka,” ujarnya mengingat-ingat.

Saat berada di pegunungan di wilayah Utara, ia mendengar berita dari siaran radio, bahwa Al-Qaeda menyerang jantung Amerika Serikat.

“Itu hal terindah, indah untuk didengar, semua orang di sini sangat bahagia,” ujarnya dengan tersenyum.

Tetapi, ketika AS menyerbu Afghanistan pada bulan berikutnya, Shafiq dan teman-temannya segera menyadari mereka tidak siap melawan banjir serangan bom dari AS dan mereka melarikan diri untuk merancang taktik menghadapi Amerika.  Sebagian mujahid menuju Pakistan dan Shafiq serta mujahidin lainnya menuju Iran.

Pemerintah Iran dan Taliban mungkin memiliki sedikit kesamaan, tetapi mereka membagi perlawanan untuk AS.

Iran menerima ratusan pejuang Taliban, menurut Shafiq, ia bertahan di Iran selama empat tahun, tanpa senjata dan tanpa pertempuran.  Ia merasa putus asa.
“Aku tidak ingin melakukan apapun,” ujarnya.
“Bagaimanapun, aku tidak mengetahui cara melakukan apapun kecuali bertempur.  Kami membaca Qur’an tetapi merasakan hidup tidak lagi menarik.”

Di awal tahun 2006, Afghanistan memilih parlemen baru. Di Kabul, AS telah percaya diri bahwa Taliban telah berakhir.

Ia kembali ke rumahnya di Wardak dengan sembunyi-sembunyi, keluarganya mengatakan “Amerika telah menghabisi Taliban dan meninggalkan sedikit pejuangnya.”

Ia bertanggung jawab terhadap satu kelompok berisi 30 mujahid, mempertahankan hidup, bergerak meninggalkan satu tempat yang aman ke tempat lainnya.

Setelah itu, Taliban mulai membangun kembali kekuatan.  “Segalanya terususun dengan baik.  Kami mendapat perintah langsung dari pemimpin kami di Pakistan,” ujar Shafiq.  Kami mengatur strategi bagaimana mendapatkan uang dan memperoleh senjata.

Di pedesaan yang padat penduduk dan tengah menganggur akibat AS telah membombardir mereka dan mereka hanya terdiam menunggu bantuan internasional yang tidak pernah tiba, Taliban masuk ke sana, berdakwah dan membongkar makar AS, bahwasanya mereka adalah “musuh kaum muslim” dan melakukan penjajahan di negeri muslim.  Taliban sedikit demi sedikit mendapatkan dukungan.

Mereka mendukung Taliban, bersama-sama melakukan jebakan untuk mengambil barang-barang dari konvoy suplai AS.  Hingga Taliban bisa kembali kuat seperti saat ini, mereka yakin akan pertolongan Allah dan terbukti, tentara kafir AS dan sekutunya tengah kewalahan menghadapi serangan mujahidin Taliban. (Hanin Mazaya/arrahmah.com)

Technorati Tags: ,

Ditulis dalam Jihad | Leave a Comment »