Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang

Imam Samudra Meninggal Dengan Senyum

Ditulis oleh meisusilo di/pada 13 November 2008

Jenazah Imam Samudra disambut bak “pahlawan” dan pekikan takbir. Pelayat tak henti mengalir sejak pagi sampai sore. Ada keanehan yang dirasa pihak keluarga. Wajahnya berseri dan mengeluarkan bau harum

610x Hidayatullah.com–Warga Serang sejak pagi tadi memadati Pemakaman Kampung Lopang Gede, Serang, Banten. Hal ini menyusul disiarkannya berita eksekusi mati pada pria asal kota ini, Imam Samudera. Imam bersama Amrozi dan Ali Ghufron, yang dituduh sebagai pelaku bom bali I dieksekusi Ahad dini hari di Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah (9/11).

Menurut Syafrison, warga Lopang Gede, jenazah Imam Samudera tiba di Serang dengan menggunakan helikopter polisi yang mendarat di Mapolda Banten. Selanjutnya, jenazah sempat dibawa ke rumah istri Imam Samudera yang berada di daerah Cinanggung. Baru kemudian, dengan menggunakan mobil ambulan, jenazah dibawa ke Masjid Al Manar yang berada di dekat rumah orangtua Imam Samudera, Embay Badriyah.

“Masjid berkapasitas 500 orang itu, tidak mampu menampung warga yang ingin ikut menyolatkan. Makanya, sholat jenazah dilakukan sampai empat kali,” kata Syafrison kepada www.Hidayatullah.com.

Usai disholatkan, jenazah dibawa ke lokasi penguburan yang berada 300 meter dari Masjid Al Manar. Warga yang ingin menyaksikan prosesi pemakaman Imam Samudera telah berdesak-desakan. Sayangnya, satuan polisi yang berjumlah 500 personil telah berjaga-jaga di sekitar makam. Jadi, tak hanya warga yang tak bisa melihat langsung prosesi pemakaman, wartawan pun hanya bisa menyaksikan dari jarak sekitar 10 meter.

Sambutan Takbir

Suasana makam menjadi riuh saat jenazah tiba di pintu makam. “Allahu akbar, Allahu akbar,” teriak warga menyambut kedatangan jasad Imam Samudera. Di antara mereka ada yang meneteskan air mata. Berkali-kali lantunan takbir itu diteriakkan. Sebagian lainnya, melantunkan tahlil, Laa Ilaha Illallah. Jenazah Imam, diusung di dalam keranda besi berwarna hijau dan ditutupi oleh kain warna hitam bertuliskan kalimat Thayyibah.

Ketegangan mulai terasa saat perlahan keranda berisi jenazah pemilik nama lain Abu Umar ini masuk lokasi pemakaman. Seluruh warga berlomba ingin ikut mengangkat keranda. Untungnya, sebagian warga segera membuat pagar betis. Namun, untuk membawa keranda ke lubang makam ternyata tak mudah. Pria-pria yang membawa keranda itu harus berdesakan dengan warga. Hidayatullah.com yang berada di samping keranda saat diusung menuju makam, juga ikut berdesak-desakan. Saat dorong-dorongan itu, telintas penulis membayangkan jamaah haji di Makkah yang berdesak-desakan hendak melempar jumrah. Butuh tenaga dan fisik yang kuat untuk menahan arus manusia.

Suasana demikian haru, saat jasad Imam Samudera diletakkan dalam tanah. Teriakan takbir kembali menggelegar di sekeliling lubang kubur. Bahkan, pelayat yang rata-rata menggunakan gamis dan pakaian khas Afhanistan mengeluarkan ucapan yang berjanji akan meneruskan perjuangan Imam Samudera. “Demi Allah, kematian Imam Samudera akan melahirkan ribuan mujahid yang akan meneruskan cita-cita perjuangannya,” teriak salah satu pelayat.

Usai dimakamkan, secara bergantian pelayat melaksanakan sholat Ghaib di depan makam Imam Samudera. Menurut Munir, wartawan yang meliput pemakaman, sholat itu dilaksanakan sebanyak tujuh kali.

Khoirul Anwar, kakak Imam Samudera yang turut memasukan jenazah ke liang lahat begitu terpukau saat melihat sang adik terakhir kali.

“Wajahnya seperti anak kecil yang baru saja dapat permen. Seperti bayi yang baru saja dimandikan bidan,” katanya. Lebih lanjut Khairul mengatakan, “Wajahnya begitu bahagia dan bersih. Bibirnya tampak senyum.”

Yang lebih aneh lagi adalah pengakuan adik Imam Samudra, Lulu Jamaluddin. “Jenazah kakak wangi sekali waktu dikeluarkan dari peti. Seperti minyak wangi yang sering dipakainya,” ujar Lulu Jamaluddin dikutip inilah.com, di rumah duka, Lopang Gede, Serang

Tentang darah segar yang mengalir dari salah satu bagian tubuhnya, Khairul menjawab, “Memang darah Syuhada tak pernah kering,” ujarnya. Sampai sore ini, palayat tak henti berdatangan dan mengalir sejak pagi hari. [adam/cha/www.hidayatullah.com]

5 Tanggapan ke “Imam Samudra Meninggal Dengan Senyum”

  1. Dermawan berkata

    jihat boleh c boleh… tapi harus tretap menjaga nama baik agama dan negara dunk… knapa tidak israel aj yg di boom dodol semua orang2x imam samudra.. mau na hancurin negara sendiri

  2. pasukan pemberantas orang bodoh berkata

    setuju dermawan!!!
    kayanya makin bnyak aja orang tolol d negri kita..
    teriak jihad tpi ga ngerti maknanya…
    kasian agama yg bersangkutan krna orang2 sesat jd meghancurkan citra agama tersebut

  3. andi berkata

    imam samudra itu orang bodoh makanya senyum-senyum kaya orang gak waras (gila, idiot,sindrom johnson). sampai mati masih gak sadar juga (dasar orang tersesat).

    kalau dipikir seberapa tolol yah, orang dan pemuda indonesia yang mau di bohongin sama orang dari negri sebrang yang mau ngehancurin negara indonesia. (jawabannya pasti tolol banget)

    ini imam samudra waktu sekolah gak mudeng kali kalo diajarin tentang hal yg baik dan benar sama gurunya.
    kira2 lulusan SD mana yah si imam ???

    wkwkwkwwwkwwkw…

  4. iwan berkata

    semoga kita semua dirahmati ALLAH SWT.

  5. Aisyah berkata

    jangan suka menjelek jelekan orang lain, belum tentu diri kita benar, Imam samudra aadalah seorang sahid, yang memberantas kemaksiatan ditempat dia ngebom,SEMOGA ALLAH SWT MENEMPATKAN DIA DISURGANYA BERSAMA PARA SUHADA YANG LAIN DITEMANIPARA BIDADARI YANG CANTIK……

Tinggalkan Balasan

XHTML: Anda dapat gunakan tag ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>