Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang

Arsip untuk November, 2008

Smiley

Ditulis oleh meisusilo di/pada 29 November 2008

Setelah berhari-hari mencari di jagad maya untuk menemukan berbagai type smiley dan bereksperimen dengan Windows Live Writer (apa hubungannya antara WLW dan Smiley hehehehehehehehehe :lol: ), akhirnya saya bisa launching juga hasil pencarian ini. kendala yang sering dihadapi dan sering membuat iri (hayo, ngaku lu…. :lol: ) adalah menampilkan smiley atau emotion pada saat posting atau saat komen. silahkan di copas sepuasnya tanpa menyebutkan sumber asalnya (lha wong dapatnya juga dari berbagai sumber hehehehehe :lol: )

* tips, jangan copas tanda ‘. karakter smileynya nggak pakai tanda ‘ (tanda petik) lho ya, ingat :!: .

Icon

Text

Icon

Text

:)

‘:)

:lol:

‘:lol:

:D

‘:D

:oops:

‘:oops:

:(

‘:(

:cry:

‘:cry:

:o

‘:o

:evil:

‘:evil:

8O

‘8O

:twisted:

‘:twisted:

:?

‘:?

:roll:

‘:roll:

8)

‘8)

:!:

‘:!:

:x

‘:x

:?:

‘:?:

:P

‘:P

:idea:

‘:idea:

:|

‘:|

:arrow:

‘:arrow:

;)

‘;)

:mrgreen:

‘:mrgreen:

Ditulis dalam Umum | Bertanda: , | Leave a Comment »

Keringat Penghuni Neraka

Ditulis oleh meisusilo di/pada 29 November 2008

image Allah SWT pun tidak akan menerima segala amalan ibadah puasa, shalat dan haji dari seorang peminum alkohol atau yang menjual alkohol hingga dia benar-benar bertobat dan tidak akan mengulangi perbuatannya lagi.

Rasulullah menyamakan alkohol dengan keringat penghuni neraka. Seorang pedagang asal Yaman suatu hari bertanya kepada Rasulullah tentang kebiasaan masyarakat di tempat tinggalnya yang suka minum minuman keras terbuat dari bahan padi-padian yang disebutnya mizr. Rasul menjawab pertanyaan itu dengan pertanyaan pula,”Apakah minuman itu memabukkan?”Dan setelah dijawab “ya”, maka Rasul pun bersabda,”Setiap yang memabukkan sangatlah dilarang.
Allah sudah membuat ketentuan bahwa bagi mereka yang meminum minuman memabukkan, maka di dalam minumannya itu akan berisi tinat al-khabal.” Orang tadi kembali bertanya apa yang dimaksudkan tinat al-khabal dan Rasulullah menjawab,”Itu merupakan keringat yang berasal dari penghuni neraka.” Begitulah peringatan Rasulullah terhadap mereka yang suka meminum minuman memabukkan. Sebagai hukumannya di akherat, orang-orang itu akan diberi minuman racun dari asawida (sejenis ular hitam yang sangat berbisa) yang menyebabkan seluruh kulit serta daging di wajahnya luntur. Allah SWT pun tidak akan menerima amalan ibadah puasa, shalat dan haji dari seorang peminum alkohol atau yang menjual alkohol hingga dia benar-benar bertobat dan tidak akan mengulangi perbuatannya lagi.

Abdullah bin Umar menyatakan, Rasulullah pernah bersabda, “Jangan duduk di dekat seorang peminum khamr, atau menjenguknya kala dia sakit, dan jangan pula menghadiri pemakamannya. Orang yang suka minum minuman keras akan muncul di hari akhir dengan wajah berwarna hitam dan lidahnya miring ke samping. Maka setiap yang melihat wajah seperti itu akan langsung mengetahui bahwa mereka peminum.”

Demikian pula Wa’il al-Hadrami berkata bahwa Tariq bin Suwaid pernah bertanya kepada Rasulullah SAW tentang minuman anggur yang hanya dia pergunakan sebagai obat. Muslim lantas meriwayatkan Rasulullah bersabda, “Itu bukan obat tapi penyakit.”

Jabir juga menyatakan tentang pesan Rasul,”Dalam jumlah yang banyak, itu (minuman keras) akan memabukkan, adapun dalam jumlah sedikit tetap dilarang.”

Larangan agama Islam agar umat menjauhi meminum khamr bukan tanpa dasar maupun alasan. Di tinjau dari segala sisi, tidak ada yang bermanfaat bagi kesehatan tubuh apabila seseorang menjadi pencandu minuman alkohol. Yang ada hanyalah kemudaratan.

Allah SWT dalam Alquran jauh-jauh hari sudah mengingatkan: “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi, berkorban untuk berhala, mengundi nasib dengan panah adalah perbuatan keji termauk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (QS Al-Maidah [3]:90)

imageDan, peringatan itu benar adanya. Di jaman serba modern ini, ditengarai alkohol merupakan penyebab nomor satu kecelakaan lalu lintas dan ketidak harmonisan rumah tangga. Amerika Serikat (AS) punya catatan buruk mengenai hal ini. Selama tahun 1996, dari 17.126 jiwa meninggal akibat kecelakaan lalu lintas, 3.732 berhubungan dengan alkohol. Masih ada lagi dampak negatif alkohol. Penelitian menunjukkan, setiap konsumsi 2-3 gelas alkohol per hari, pada akhirnya dapat menganggu fungsi jantung.

Studi lain bahkan menyatakan alkohol bisa menimbulkan efek negatif terhadap fisik bayi yang baru lahir. Hasil penelitian American Medical Association (AMA) tahun 1988, menyebutkan angka 100 ribu kematian serta uang berjumlah 85,8 miliar dolar berkaitan langsung dengan akibat alkohol. Sekitar 25 hingga 40 persen ruang inap rumah sakit berisikan pasien penyakit komplikasi karena alkohol. Jumlah tersebut masih lebih besar dari akibat obat-obatan terlarang dan rokok, walau digabung sekalipun.

AMA juga melaporkan, faktor gaya hidup dan problem sosial telah menghabiskan biaya 171 miliar dolar anggaran kesehatan negara. Dr Daniel Johnson Jr, juru bicara AMA, mengatakan tiap tahun miliaran dolar harus disisihkan untuk perawatan akibat kekerasan, penyalahgunaan narkoba, rokok, serta alkohol. Dari 1988 hingga 1996, tercatat 500 ribu kematian lantaran merokok dan biaya perawatan mencapai 22 miliar dolar. Angka 100 ribu kematian dan 85,8 miliar dolar bagi kasus alkohol, dan penyalahgunaan narkoba menghabiskan dana 58,3 miliar dolar guna rehabilitasi dan perawatan.

Meski sudah terpampang angka-angka semacam itu, tak hanya di AS tapi juga dibanyak negara, kasus akibat alkohol tidak lantas menyusut. Kini di sejumlah negara, memasang batasan usia untuk boleh minum alkohol ditambah menjadi 21 tahun. Tapi terbukti hal tersebut tidak dapat memecahkan persoalan.

Fakta membuktikan, banyak angka kecelakaan lalu lintas yang melibatkan peminum remaja. Ironisnya, hukum pun seolah tak berdaya untuk menekan angka-angka tadi. Lantas apa yang harus dilakukan masyarakat, dan umat, agar bisa terhindar dari bahaya kecanduan alkohol? Tumbuhkan kesadaran di dalam diri untuk menjauhi alkohol dan efek negatifnya. Masing-masing individu juga harus memelihara kesehatan diri serta yang tua memberikan suri tauladan kepada yang muda. Gampang, kan? (RioL)

*dari www.swaramuslim.com

Ditulis dalam Kajian | Leave a Comment »

Islam Atau Kristen Agama Orang Papua? [2]

Ditulis oleh meisusilo di/pada 29 November 2008

Pada tahun pertama penjajah Belanda di Papua, hampir seluruh tenaga yang ditempatkan di sana adalah missionaries. Islam Atau Kristen Agama Orang Papua? [bagian kedua]

Habis Manis Sepah Dibuang

image Hidayatullah.com–Para sejarawan Barat seperti Thomas W. Arnold maupun WC.Klein dalam bukunya “The Preaching Of Islam” dan “Neiuw Guinea” menjelaskan bahwa Islam hadir di kawasan Papua ini 3 abad lebih dulu (1520) dari para missionaris Kristen yang pertama yakni C.W.Ottow dan G.J. Geissler yang mendarat di Pulau Mansinam, Manukwari pada tanggal 5 Februari 1855.

Uniknya kedatangan para missionaris itu justru diantar oleh tokoh Muslim dari kerajaan Ternate dan Salawati, yang pada saat itu sangat berpengruh di kawasan Timur Indonesia khususnya di Maluku dan Papua(baca buku: Islam atau Kristen Agama Orang Irian? Pustaka Dai: 2004). Saat itu setiap orang yang akan memasuki Papua harus meminta izin penguasa dari kerajaan Muslim tersebut.

Ottow dan Geissler yang berasal dari Gereja Protestan Jerman, adalah murid Ds. OG. Heldring yang membentuk perhimpunan “Pengijil Tukang” yakni juru injil yang sekaligus memiliki keahlian di bidang pertukangan dan pertanian, pada tahun 1847.

image Selain Ottow dan Geissler, delapan orang utusan di kirim oleh institusi tersebut ke Sangir dan Talaud, sebuah kawasan di bagian utara pulau Sulawesi Utara.

Mereka itulah missionaries-missionaris handal pada masanya, yang telah sukses menancapakan tonggak Kristenisasi secara permanen di kawasan timur Indonesia, khususnya Papua.

Dalam bukunya “Neiuw Guinea”, WC. Klein juga menjelaskan fakta kapan kedatangan Islam di tanah Papua. Di sana dia menulis: In 1569 Papoese hoof den bezoeken Batjan. Ee aanterijken worden vermeld. ( pada tahun 1569 pemimpin-pemimpin Papua mengunjungi kerajaan Bacan dimana dari kunjungan terebut terbentuklah kerajaan-kerajaan)

Kerajaan-kerajaan yang dimaksud itu adalah: Kerajaan Raja Ampat, Kerajaan Raja Rumbati, Kerajaan Atiati dan Kerajaan Fatagar.

Begitupun adanya fakta dan data yang tak terbantahkan dengan jelas menyebutkan bahwa, sebelum kedatangan dua orang missionaris tersebut, beberapa daerah di Papua seperti Waigeo, Misool, Waigama dan Salawati dll telah memeluk agama Islam.

Catatan dari Kitab Klasik

Dari keterangan yang diperoleh dalam kitab klasik Negarakertagama, misalnya, di sana dijelaskan sebagai berikut: ” Ikang sakasanusasanusa Makasar Butun Banggawai Kuni Ggaliyao mwang i [ng] Salaya Sumba Solot Muar muwah tigang i Wandan Ambwan Athawa maloko Ewanin ri Sran ini Timur ning angeka nusatutur“.

Menurut sejumlah ahli bahasa yang dimaksud Ewanin adalah nama lain untuk daerah Onin dan Sran adalah nama lain untuk Kowiai. Semua tempat itu berada di Kaimana, Fak-Fak.

Catatan serupa tertuang dalam sebuah buku yang dikeluarkan oleh Periplus Inc. Berkeley, California 1991, sebuah wadah sosial milik misionaris menyebutkan tentang daerah yang terpengaruh Islam: Dalam kitab Negarakertagama, di abad ke-14 di sana ditulis tentang kekuasaan kerajaan Majapahit di Jawa Timur, dimana di sana disebutkan dua wilayah di Irian yakni Onin dan Seran. Bahkan lebih lanjut dijelaskan: Namun demikian armada-armada perdagangan yang berdatangan dari Maluku dan barangkali dari pulau Jawa di sebelah barat kawasan ini, telah memiliki pengaruh jauh sebelumnya.

….Pengaruh ras austronesia dapat dilihat dari kepemimpinan raja di antara keempat suku, yang boleh jadi diadaptasi dari Kesultanan Ternate, Tidore dan Jailolo. Dengan politik kontrol yang ketat di bidang perdagangan pengaruh kekuasaan Kesultanan Ternate di temukan di raja Ampat di Sorong dan di seputar Fakfak dan diwilayah Kaimana.”

Dari data tersebut jelaslah bahwa pada zaman Kerajaan Majapahit sejumlah daerah di Papua sudah termasuk milayah kekuasaan Majapahit. Seiring dengan runtuhnya kerajaan Majapahit (1527) yang pernah menguasai sejumlah kawasan di Asia Tenggara seperti Malaysia, Filipina, Brunai, hingga Thailand, hadirlah kekuatan kerajaan Islam Demak. Dapat dikatakan sejak zaman baru itu, atau bahkan jauh sebelumnya, pengaruh kerajaan Islam Demak menyebar ke Papua. Melalui jalur perdagangan para saudagar dan dai Muslim sudah berdakwah ke sana.

Bahkan menilik dari catatan di Troloyo, sebagaimana diungkapkan oleh Prof.DR. Habib Mustopo, seorang Guru Besar Bidang Arkeologi Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang, yang sekaligus Ketua Asosiasi Ahli Epigrafi Indonesia (AAEI) Jawa Timur menjelaskan bahwa dakwah Islam sudah ada sejak zaman Kerajaan Majapahit.

Pada saat Majapahit eksis dakwah Islam juga sudah eksis. Apalagi dengan diketemukanya data artefaktual yang waktunya terentang antara 1368-1611M yang membuktikan adanya komunitas Muslim di sikitar Pusat Keraton Majapahit, di Troloyo, yakni sebuah daerah bagian selatan Pusat Keraton Majapahit yang waktu itu terdapat di Trowulan. Kedigjayaan Majapahit sendiri runtuh secara total tahun 1527 M. Itu artinya, satu setengah abad sebelum keruntuhan Majapahit Islam sudah berkembang, justru di jantung Majapahit. Fakta ini tentu saja menepis anggapan yang ada selama ini bahwa perkembangan dan bertumbuhan Islam, khususnya di Pulau Jawa, ada setelah keruntuhan Majapahit. Para dai Muslim juga menyebar ke mana-mana baik yang dari tanah Jawa maupun dari Timur Tengah termasuk ke Pulau Burung Papua.

Lalu munculah tentara kolonial Belanda. Di awal kedatangannya ke Papua, hampir sebagian besar pasukan kolonial Belanda yang diterjunkan ke kawasan ini adalah merangkap rohaniawan gereja(missionaries).

Catatan di bawah ini menjelaskan tentang hal itu. “Sejak tahun 1855 CW.Ottow dan GJ. Geissler menetap sebagai penyiar agama Kristen di daerah Doreri, lambat laun jumlah golongan orang-orang Belanda di Irian Barat(Papua) bertambah dengan para penyiar agama yang berusaha menyebarkan agama Kristen di kalangan penduduk pribumi. Malah pada tahun-tahun pertama dari masa penjajahan Belanda di Irian Barat [Papua] hampir seluruh golongan orang-orang Belanda di daerah tersebut, terdiri dari para penyiar agama Kristen”. (Penduduk Irian Brat hal. 105)

Artinya, di samping sebagai tentara, dokter atau perawat, ya juru rohani juga. Maka sangat wajar jika mereka dengan gigih berjuang meski menghadapi medan yang sulit, menguasai dan mengontrol wilayah jajahan, sekaligus mengajak warga pribumi kepada Kristen.

Terhadap penduduk pribumi mereka menanamkan mitos-mitos meyesatkan bahwa nenek moyang mereka sesungguhnya berwarna kulit putih dan akan kembali datang (messiah) dalam bentuk kulit putih.

Sangat jelaslah bahwa semboyan pereka (Barat) yang dikenal dengan tiga G (Gold, Glory, Gospel; Emas, Kebebasan dan Injil) bukan lagi suatu rahasia. Mereka dengan penuh semangat mendatangi negeri-negeri jajahan demi memenuhi ambisinya itu. Bahkan Indonesia, bagi mereka(missionaris) disebutnya sebagai lahan yang sangat subur untuk Injil.

Secara sistematis kemudian para zending ini bekerja menyebarkan agama Kristen dengan melalui organisasi yang berpusat di negeri Belanda yang benama: Utrechtsehe Zendingvereeniging. Begitu pula kemudian kegiatan yang dilakukan oleh kaum missionaris Kristen Katolik, yang juga berpusat di Belanda, yakni suatu ordo Franciscan di Tilberg yang merupakan suatu cabang dari pusat missi di Vatikan yaitu: Sacra Congregatio de Propaganda Fide.(Penduduk Irian barat hal. 344-355)

Akan tetapi nampaknya dalam proses penginjilan di Papua, para missionaris itu mengalami ketidakakhuran.

Akhirnya mereka membagi Papua menjadi kedua wilayah penggarapan, dimana Kristen Protestan di Utara dan Kristen Katholik di Selatan. Pembagian seperti itu kelihatannya identik dengan keadaan di Negeri Belanda di mana di sana diterapkan sistem seperti itu.

Menyangkut kondisi ummat Islam kalau itu, menilik penelitian antropologis yang pernah dilakukan oleh Harsja W.Bachtiar pada tahun 1963 misalnya melaporkan sbb:

….beberapa daerah di Irian Barat(Papua) menjadi daerah kekuasaan Sultan Tidore dan Sultan Banda. Sayang sekali karena tidak ada peninggalan-peninggalan berupa keterangan-keterangan tertulis, kita tak mengetahui bilamana dan di mana didapati pula orang-orang Indonesia yang berasal dari pulau-pulau Indonesia di luar wilayah Irian barat(Papua). Pada umumnya mereka menganut agama Islam.

Lain halnya dengan penyebaran para pendatang yang non-Muslim, laporan tersebut memberikan gambaran yang sedikit jelas dengan melaporkan antara lain sbb:

Sejak diadakan usaha-usaha menyiaran agama Nasrani di Irian Barat(Papua.pen) oleh penyiar-penyiar agama dari Negeri Belanda jumlah orang Indonesia bukan pribumi bertambah di Irian Barat (Papua.pen), karena penggunaan tenaga-tenaga kerja yang berasal dari pulau-pulau sekitarnya untuk membantu para penyiar agama, terutama sebagai guru sekolah dan perawat. Banyak orang-orang yang menganut agama Nasrani ini didatangkan dari pulau-pulau Maluku seperti Kei, Ianimbai, Banda dan Sangir.”

image Tentang komposisi pemeluk-pemeluk agama di Papua,  berdasarkan catatan yang dibuat tahun 1963, di dapat angka-angka sebagai berikut:

Kristen Protestan………………. 130.000

Katolik Roma…………………….. 47.000

Islam………………………………… 11.000

Agama Tionghoa……………….. 3.000

Agama-agama pribumi… …… 500.000

Terhadap data dan komposisi ragam pemeluk agama tersebut, laporan itu memberikan penjelasan: Angka-angka 500.000 yang menunjukkan jumlah penganut agama-agama pribumi bukanlah angka pasti, karena didasarkan atas taksiran jumlah orang-orang pribumi di daerah pedalaman yang berada di bawah kekuasaan pemerintahan yang berpusat di Kotabaru (kini Jayapura).

Golongan penganut agama Kristen Protestan tersebar di seluruh daerah yang pernah dikuasai oleh pemerintah jajahan Belanda. Golongan penganut agama Katolik Roma terutama didapati di daerah pantai selatan. Golongan penganut agama Islam amat banyak di daerah semenanjung Doreri dan Merauke, sedangkan golongan menganut agama Tionghoa didapati diberbagai tempat.

Tentang kesulitan melacak gerakan dakwah Islam di Papua, juga dimungkinkan oleh faktor internal ummat Islam sendiri, yaitu karena faktor kurang terbiasanya ummat Islam setempat melakukan pencatatan yang menyangkut kegiatan mereka. Berbeda dengan para missionaris Belanda.

Secara rutin dan teliti mereka mendata jumlah penduduk setempat agar dapat mengikuti perkembangan jumlah penduduk di wilayah kerja masing-masing. Kaum missionaris memiliki “Buku Jiwa” sedang kaum Zending memelihara “Buku Serani” yang berisi catatan tentang penduduk di wilayah kerjanya itu. Dari catatan tersebut kemudian dilaporkan dan diolah oleh pusat-pusat organisasi mereka.

Air Susu Dibalas dengan Pengusiran Mengenai bagaimana watak dan corak pemerintahan kolonial Belanda di Indonesia dalam hubungannya dengan persoalan agama, telah menjadi pengetahuan umum yang luas. Mereka menekan dan memenjarakan tokoh-tokoh Islam di tanah Papua. Sebutlah misalnya Alwi Racham dan Raja M Rumangseng Al-Alam Umar Sekar yang berasal dari daerah Kokas. Beliau bersama pejuang Papua lainnya seperti Silas Papure, Markus Indeu, Lukas Rumkorem memperjuangkan Papua dari cengkeraman penjajahan Belanda. Mereka ditangkap dan dipenjarakan oleh pemerintah Kolonial Belanda karena tidak mau dibujuk untuk menyerahkan uang tambang minyak kepada Belanda

Bahkan mereka tidak segan mengusir atau membuang tokoh-tokoh Muslim. Muhammad Aminuddin Arfan seorang tokoh Muslim dari Kerajaan Islam Salawati yang turut mengantar kedatangan OC.Ottow dan GJ.Geissler –Sang Bapak Gereja di Papua–di Pulau Mansinam, dibuang dan diasingkan ke Maros karena menentang penjajahan Belanda dan meninggal di sana. Habis manis sepah dibuang.

Muhammad Aminuddin Arfan adalah orang penting di Kerajaan Salawati. Ia adalah adik kandung Raja Salawati. Pada saat itu Kerajaan Salawati merupakan bagian dari kekuasaan kerajaan Islam Ternate. Sesuai prosedur wilayah, setiap tamu yang akan berkunjung ke Papua, mereka harus minta izin ke penguasa kawasan di Salawati yang merupakan bagian kekusaan Ternate. Itu pula yang dilakukan Kerajaan Ternate. Sembari membawa dua orang missionaris berkebangsaan Jerman, Ottow dan Geissler dengan kapal khusus berwarna putih, utusan

Kerajaan Ternate pamit dulu dengan Penguasa Kerajaan Salawati, sekaligus meminta beberapa orang untuk mendampingi missionaris yang akan melakukan tugas penginjilan di pulau Mansinam, Manukwari.

Pulau Mansinam dipilih lantaran dianggap masih dihuni mayoritas Animisme. Setelah dua bulan “memperkenalkan” Ottow dan Geisler kepada kepala-kepala adat, barulah Muhammad Aminuddin Arfan kembali ke Salawati.

Ironisnya, selang berapa waktu setelahnya, Muhammad Aminuddin Arfan yang memang anti Belanda ditangkap dan diasingkan di Maros. Beliau tidak diperkenankan pulang, dan dibiarkan di sana hingga wafatnya. Di sinilah liciknya para penjajah Salibis. Ditulung malah Mentung (dibantu malah melukai), kata peribahasa Jawa. Air susu dibalas dengan air tuba.

Mungkin karena keadaan yang demikian itulah maka perkembangan dakwah Islam di Papua menjadi amat lambat, bahkan mungkin (pernah) terhenti sama sekali.
Apalagi yang menyentuh masyarakat pedalaman yang notabene terhadap penduduk asli.  [Ali Athwa. Penulis adalah wartawan Majalah Hidayatullah dan penulis buku  “Islam Atau Kristen Agama Orang Irian (Papua)”. Tulisan diambil dari Majalah Hidayatullah]

* dari www.hidayatullah.com

Ditulis dalam Kisah, Umum | Leave a Comment »